Rahmat Islam Untuk Rahmat Purnomo
Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi 11 Tahun I/26 Dzul Hijjah
1423 H/28 Februari 2003 M
===================

Dia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia
dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau
kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah
agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.

Kakeknya adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi
pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya
juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan
ibunya sebagai pengajar Injil untuk kaum wanita, adapun
dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang
dakwah di sebuah gereja bethel Injil sabino.

Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit untuk menjadi
seorang Muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan
pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan kepadaku
bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya
ilmu, tak dapat membaca dan menulis. Bahkan lebih dari
itu, aku telah membaca buku profesor doktor Ricolady,
seorang nashrani dari Perancis bahwa Muhammad itu seorang
dajjal yang tinggal di tempat ke sembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi
Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sejak itulah tertanam
pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak
Islam dan menjadikannya sebagai agama.

Pada suatu hari, pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di kecamatan Dairi,
letaknya cukup jauh dari ibukota Medan yang terletak di
sebelah selatan pulau Sumatera, Indonesia. Setelah
selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di
tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di
hadapanku lalu bertanya dengan pertanyaan aneh : “Engkau
telah mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah tuhan, mana
dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku menjawab : “Baik ada
dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu,
jika kamu mau beriman, berimanlah, jika tidak, kufurlah!”

Namun, ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu
mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di
telingaku, mendorongku untuk melihat kitab Injil, mencari
jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui
bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda,
salah satunya mathius, yang lainnya markus, yang ketiga
lukas, dan yang keempat yohannes, semuanya buatan manusia.
Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya kepada diriku :
“Apakah Al Qur’an dengan nuskhah yang berbeda-beda juga
buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tidak bisa
lari darinya dengan pasti : “Bukan!”

Aku mempelajari keempat Injil tersebut lalu apa yang
kudapatkan? Injil mathius berbicara apa tentang Al Masih
Isa ‘Alaihis Salam? Kami membaca di dalamnya sebagai
berikut :

“Sesungguhnya Isa Al Masih bernasab kepada Ibrahim dan
kepada Daud … .” (1-1)

Lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya,
kalau begitu dia manusia. Injil lukas berkata :

“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk
selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33)

Dan Injil markus berkata : “Inilah silsilah yang
menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1)

Dan yang terakhir, Injil yohannes berbicara apa tentang
Isa Al Masih? Ia berkata :

“Pada awalnya ia adalah kalimat dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1)

Makna dari nash ini pada awalnya adalah Al Masih dan Al
Masih di sisi Allah, maka Al Masih adalah Allah.

Aku bertanya kepada diriku : “Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa
‘Alaihis Salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah
ataukah raja ataukah Allah?”

Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan
jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada
teman-temanku, orang-orang kristen : “Apakah didapatkan
dalam Al Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan ayat
yang lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al Qur’an
datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun
Injil-Injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan
tidak ragu kalau Isa ‘Alaihis Salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya :
“Apa landasan awal yang didakwahkan Isa ‘Alaihis Salam?”

Ini, Injil markus berkata :

Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al
Masih), mereka menerimanya dengan baik, menanyainya
tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan :
“Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah : ‘Dengarkan,
wahai Bani Israil! Rabb, Tuhan kita adalah Rabb Yang
Esa’.” (12:28-29)

Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘Alaihis Salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa
maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga
maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah
begitu?

Kemudian aku lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada
Injil yohannes nash-nash yang menunjukkan doa dan
ketundukan Isa Al Masih ‘Alaihis Salam kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Aku bertanya kepada diriku : “Jika
sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala
sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dari
doa?” Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi
dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku doa
yang terdapat dalam Injil yohannes, inilah nash doanya :

“Inilah kehidupan yang abadi, agar mengetahui bahwa
Engkaulah Tuhan yang hakiki dan berjalanlah Al Masih yang
Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang
Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah
menyempurnakannya.” (17-3-4)

Ini doa yang panjang, yang akhirnya berkata : “Wahai
Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenal-Mu dan aku
akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan
seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26)

Doa ini menggambarkan pengakuan Isa ‘Alaihis Salam bahwa
Allah, Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah
yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil
mathius (15:24), di mana ia berkata :

“Aku tidak diutus melainkan pada kaum di rumah Israil yang
sasar.”

Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya
ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan
bahwa : “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Israil.”

Kemudian aku lanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat
aku shalat aku selalu membaca kalimat berikut : “Allah
bapak, Allah anak, Allah roh kudus, tiga dalam satu.” Aku
berkata kepada diriku : “Perkara yang sangat aneh! Kalau
kita bertanya pada siswa kelas satu SD, 1+1+1=3?” Pasti
akan menjawab : “Ya.” Kemudian jika kita katakan kepadanya
: “Akan tetapi juga 3=1?” Tentu dia tidak akan menyepakati
hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas
pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘Alaihis Salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah
Esa, tidak ada serikat bagi-Nya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara akidah yang
menancap di jiwaku sejak kecil yakni “tiga dalam satu”
dengan apa yang diakui Isa Al Masih sendiri dalam
kitab-kitab Injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang,
bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat
bagi-Nya. Mana dari keduanya yang paling benar?

Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun
yang benar dikatakan, bahwa sesungguhnya Allah itu esa.
Kemudian aku cari lagi dari kitab Injil dari awal,
barangkali aku temukan apa yang aku inginkan. Sungguh
telah aku temukan dalam pencarianku nash berikut ini :

“Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku
adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada
yang menyerupai-Ku.” (46:9)

Sungguh, perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh
dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al Ikhlas,
firman Allah ta’ala :

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Katakanlah : “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak
beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia.”

Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan
berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama
pada agamaku, masihiyyah yang dulu, dengan demikian tiga
dalam satu tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di
sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan
awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam
‘Alaihis Salam ketika memakan buah yang diharamkan dari
pohon yang berada di Surga, pasti seluruh anak manusia
akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam
rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam
keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari
tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada
perjanjian lama, di tengah pencarianku aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut :

“Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak.
Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak … .”
(Hizqiyal 18:20-21)

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini, apa
yang dikatakan Al Qur’anul Karim pada masalah ini :

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain … .”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang
tuanya-lah yang akan menjadikannya nashrani atau
menjadikannya majusi.”

Inilah dia, kaidah dalam Islam dan menyepakatinnya apa
yang ada/datang dalam Injil, lalu bagaimana Isa dikatakan
bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke
generasi lainnya dan bahwa manusia dilahirkan dalam
keadaan berdosa?

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang
berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari aku letakkan
Injil dan Al Qur’an di depanku, kutujukan pertanyaan pada
Injil : “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya : “Tidak ada, karena nama Muhammad tidak
terdapat dalam Injil.” Kemudian kutujukan pertanyaan
berikutnya pada Isa seperti Al Qur’an telah bercerita
tentangnya : “Wahai Isa Ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya : “Sungguh Al Qur’an
telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan
sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang
setelahku namanya adalah Ahmad.” Allah berfirman atas
lisan Isa ‘Alaihis Salam :

Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata : “Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul
yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad),
maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : Ini adalah sihir
yang nyata.” (QS. Ash Shaff : 6)

Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil Barnabas berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun
sayang para pemuka-pemuka agamanya (nashrani) mengharamkan
pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang
paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang
memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya
terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya terdapat pula kenyataan yang sesuai dengan
apa yang ada dalam Al Qur’anul Karim. Dalam Injil Barnabas
(Ishaah : 163) :

Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih : “Wahai
guru! Siapa yang akan datang sesudahmu?” Al Masih menjawab
dengan senang dan gembira : “Muhammad utusan Allah pasti
akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas,
yakni ucapannya pada (Ishaah : 72) :

Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al Masih : “Wahai
guru! Saat Muhammad datang, apa tanda-tandanya hingga kami
mengenalnya?” Al Masih menjawab : “Muhammad tidak akan
datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus
tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan
orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak
sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah akan
mengutus penutup para Nabi dan Rasul-Rasul, yaitu Muhammad
Rasulullah.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan
sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang
Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya
sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku berazzam (bertekad kuat) untuk
keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku kecuali Islam.
(Lihat Kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail
Al Muqaddim)

Para pembaca rahimakumullah, demikianlah Islam yang dibawa
oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai rahmat
bagi semesta alam menuntut kita selaku para pemeluknya
untuk bersyukur. Allah berfirman :

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)-mu dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-Nya
dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridlai kesyukuranmu
itu dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia
memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di
(dada)-mu.” (QS. Az Zumar : 7)

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan,
wallahul haadi ila sabilir rasyad.

Pertama, manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu.
Allah berfirman : “Manusia dahulunya hanyalah satu umat
kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu
ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah
telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu.” (QS. Yunus : 19)

Kedua, Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman :

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu), tidak ada tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al
Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa
yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat
kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah : “Aku
menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula)
orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada
orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada
orang-orang yang ummi : “Apakah kamu (mau) masuk Islam?”
Jika mereka masuk Islam sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu
hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 18-20)

Ketiga, aqidah tauhid adalah fitrah manusia. Allah
berfirman :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kelak kamu tidak
mengatakan : “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Atau agar kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak
dahulu sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat
dahulu?” (QS. Al A’raf : 172-173)

Keempat, petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman :

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah dan (janganlah kamu percaya) bahwa
akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan
kepadamu dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah :
“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah
memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui.”
(QS. Ali Imran : 73)

Kelima, Isa ‘Alaihis Salam adalah Nabi dan Rasul Allah.
Allah berfirman :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam
agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam
itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan
kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan :
“(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). Itu
lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit
dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara. (QS. An Nisa’ : 171)

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari

(Diringkas Dari Kitab ‘Uluwul Himmah)

~ oleh 1408hijra pada April 5, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: