Marah yang Terpuji

Dalam kehidupan ini, terkadang manusia mengalami ketidaksabaran dan
kemarahan. Terutama pada saat seseorang merasa ada gangguan yang
menimpanya. Atau ketika ingin membalas gangguan yang telah menimpanya.
Baik berkaitan dengan hati, badan, harta, kehormatan atau lainnya. Dan
kemarahan itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa
perkataan maupun perbuatan yang haram. Tetapi sesungguhnya tidaklah
semua kemarahan itu tercela, bahkan ada yang terpuji.

Seseorang yang marah karena perkara-perkara dunia, maka kemarahan
seperti ini tercela. [Lihat Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhus Shalihin
I/112, Syaikh Salim Al Hilali]

Oleh karenanya Rosulullah shallallahu'alaihi wasallam menasihati
seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata
kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam: "Berilah wasiat kepadaku"
Nabi menjawab, "Janganlah engkau marah." Laki-laki tadi mengulangi
perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda, "Janganlah engkau
marah" [HR Bukhari no 6116]

Maka jika seseorang ditimpa kemarahan, jangan sampai kemarahan itu
menguasai dirinya. Karena jika telah dikuasai oleh kemarahan, maka
kemarahan itu bisa menjadi pengendali yang akan memerintah dan
melarang kepada dirinya.

Janganlah melampiaskan kemarahan. Karena kemarahan itu sering menyeret
kepada perkara yang haram. Seperti: mencaci, menghina, menuduh,
berkata keji dan perkataan haram lainnya. Atau memukul, menendang,
membunuh dan perbuatan lainnya.

Tetapi hendaklah mengendalikan diri dan emosinya agar tidak
melampiaskan kemarahan, sehingga keburukan kemarahan itu akan hilang.
Bahkan kemarahan akan segera reda dan hilang. Seolah-olah tadi tidak
marah. Sifat seperti inilah yang dipuji oleh Allah dan RasulNya. Allah
berfirman: (artinya)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang
-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS Ali Imran: 133-134]

Juga firmanNya: (artinya)

"Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah
kenikmatan hidup di dunia. Dan yang ada pada sisi Allah lebih
baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya
kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal dan (bagi) orang-orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf." [QS Asy Syura: 36-37]

Demikian juga orang yang mampu mengendalikan emosinya itu dipuji oleh
Rosulullah dan dijanjikan dengan bidadari surga.

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi
wasallam bersabda, "Siapakah yang kamu anggap sebagai shura'ah (=orang
kuat, jago gulat, orang yang banyak membanting orang lain) ?" Kami
menjawab, "Seseorang yang tidak dapat dijatuhkan oleh orang lain."
Beliau bersabda, "Bukan itu, tetapi shura'ah yaitu orang yang dapat
menguasai dirinya ketika marah." [HR Muslim no 2608]

Beliau juga bersabda,

"Barangsiapa menahan kemarahan, padahal mampu melampiaskannya,
niscaya pada hari kiamat Allah Azza Wa Jalla akan memanggilnya di
hadapan seluruh makhluk, sehingga Allah memberinya hak memilih
di antara bidadari surga yang dia kehendaki."
[HR Abu Dawud no 4777, Tirmidzi no 2021, Ibnu Majah no 4186 dan
Ahmad III/440. Dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali dalam Iqadhul
Himam]

Untuk mengatasi kemarahan yang menimpa seseorang, Rosulullah
shalallahu'alaihi wasallam telah memberikan resep-resep
pengendaliannya. Dapat kami sebutkan secara ringkas [lihat Bahjatun
Nadhirin, hal 112]: "

Pertama, mengucapkan ta'awudz (mohon perlindungan kepada Allah dari
gangguan syaithan)
Kedua, Diam, tidak berbicara.
Ketiga, jika dia berdiri, hendaknya duduk. Jika belum reda, hendaklah
berbaring.

Syaikh Muhammad Nadhim Sulthan berkata, "Kemarahan tercela adalah
kemarahan pada selain al haq, tetapi mengikuti hawa nafsu, dan seorang
hamba yang melewati batas dengan perkataannya, dengan mencela,
menuduh, dan menyakiti saudara-saudaranya dengan kalimat-kalimat
menyakitkan. Sebagaimana dia melewati batas dalam kemarahannya dengan
perbuatannya, lalu memukul dan merusak harta benda orang lain."
[Qawaid wal Fawaid Minal Arba'in Nawawiyah, hal 147]

Jika kita telah mengetahui hal ini, maka marilah menengok bersama
terhadap panutan dan tauladan kita, Nabi Muhamman shallallahu'alaihi
wasallam. Bahwa beliau memiliki kesabaran luar biasa yang layak untuk
kita contoh. Perhatikanlah perkataan Anas bin Malik di bawah ini:

Dari Tsabit, dia berkata, Anas radhiyallahu'anhu bercerita kepada
kami, dia berkata, "Aku menjadi pembantu Rosulullah
shallallahu'alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak
pernah berkata kepadaku: "huh". Juga tidak pernah mengatakan
kepadaku (ketika aku melakukan sesuatu), "Kenapa engkau melakukan ?" Dan
tidak pernah mengatakan kepadaku (ketika aku tidak melakukan
sesuatu): "Tidakkah engkau melakukan ?"
[HR Bukhari no 6038, Muslim no 2309]

Marah yang terpuji adalah kemarahan karena Allah, karena Al-haq, dan
karena al haq, dan untuk membela agamaNya. Khususnya ketika perkara
-perkara yang diharamkan Allah dilanggar. *6

Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata, "Kewajiban atas seorang mukmin
(yaitu) agar syahwatnya (kesenangannya) terbatas untuk mencari apa
yang dibolehkan oleh Allah baginya . Hendaklah meraih syahwat yang
dibolehkan tersebut dengan niat yang baik, sehingga mendapatkan
pahala. Dan hendaknya kemarahan seorang mukmin itu untuk menolak
gangguan dalam agama yang menimpanya atau menimpa orang lain dan untuk
menghukum orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan RosulNya. Allah
berfirman:

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan
(perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang
yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. [QS At
Taubah: 14-15]

Jika kita telah mengetahui hal di atas, maka hendaklah kita tahu bahwa
begitulah keadaan Nabi shallallahu'alaihi wasallam. Yaitu beliau
tidaklah membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya, tetapi
beliau membalas dengan hukuman jika perkara-perkara yang diharamkan
Allah dilanggar.

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, "Tidaklah Rosulullah
shallallahu'alihi wasallam disuruh memilih di antara dua perkara sama
sekali, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya,
selama hal itu bukan merupakan dosa. Jika hal itu merupakan dosa,
maka beliau adalah manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah
beliau membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya di dalam
sesuatu sama sekali. Kecuali jika perkara-perkara yang diharamkan
Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman terhadap
perkara itu karena Allah." [HR Bukhari no 6126, Muslim 2327]

Demikian juga beliau tidak pernah memukul pembantu atau seseorang, kecuali
jika berjihad di jalan Allah

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, "Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul sesuatu
dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan
tidak pernah memukul seorang pembantu. Beliau memukul jika berjihad di
jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu sama
sekali, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali jika ada
sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar,
maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah Azza wa
Jalla." [HR Muslim no 2328 , Abu Dawud no 4786, Ibnua Majah no 1984]

Aisyah radhiallahu'anha pernah ditanya tentang akhlak Rosulullah
shallallahu'alaihi wasallam, maka dia menjawab, "Akhlak Nabi
shallallahu'alaihi wasallam adalah Al Qur'an." [HR Muslim no 746]

Imam Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah berkata, "Yang dimaksudkan
oleh Aisyah radhiallahu'anha yaitu, bahwa beliau shallallahu'alahi
wasallam beradab dengan adab-adab Al Qur'an dan berakhlak dengan
akhlak-akhlak Al Qur'an. Apa saja yang dipuji oleh Al Qur'an, maka
itulah yang beliau ridhai (sukai). Dan apa saja yang dicela oleh Al
Qur'an, maka itulah yang beliau murkai." [Jami'ul Ulul wal Hikam:
I/370, Tahqiq Syu'aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis]

Jika melihat atau mendengar apa yang dimurkai Allah, maka beliau
shallallahu'alaihi wasallam marah karenanya, beliau berbicara tentangnya.
Beliau tidak diam !

Di antara sebagian sikap beliau tentang hal tersebut, ialah:

Aisyah radhiallahu'anha berkata,

"Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam datang dari safar (bepergian),
sedangkan aku telah menutupkan sebuah tirai pada sebuah rak. Pada
tirai itu terdapat gambar-gambar (yaitu gambar manusia atau hewan).
Maka setelah beliau melihatnya, lalu mencabut tirai tersebut dan
bersabda, "Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah
orang-orang yang menyamai (menandingi) ciptaan Allah. (yakni para
pembuat patung / gambar makhluk bernyawa)" Aisyah berkata, "Maka
tirai itu kami jadikan sebuah bantal atau dua bantal." [HR Bukhari no
5954, Muslim 2107]

Abu Mas'ud Al Anshari radhiallahu'anhu berkata, "Seorang lelaki
menghadap Rosulullah shallallahu'alaihi wasallam lalu berkata,
"Sesungguhnya aku memperlambat shalat Shubuh disebabkan oleh si Fulan
(imam shalat) yang memanjangkan shalat dengan kami."
Maka tidaklah aku melihat Nabi shallallahu'alaihi wasallam marah dalam
memberikan nasihat sama sekali yang lebih hebat dari kemarahan beliau
pada hari itu. Lantas beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya di
antara kamu itu ada orang-orang yang membikin manusia lari (dari
agama)! Siapa saja di antara kamu yang mengimami orang banyak, maka
hendaklah dia meringkaskan (yakni tidak shalat dengan panjang dan
lama). Karena sesungguhnya di belakangnya (yang menjadi makmum) ada
orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang memiliki
keperluan." [HR Muslim no 466]

Abdullah bin Umar berkata, bahwa Rosulullah shallallahu'alaihi
wasallam melihat ludah pada dinding kiblat (masjid), lalu beliau
membuangnya, kemudian menghadap kepada orang-orang dan bersabda, "Jika
salah seorang di antara kamu sedang shalat, maka janganlah meludah ke
arah wajahnya, karena sesungguhnya Allah di arah wajahnya jika dia
sedang shalat." [HR Bukhari no 406 dan lainnya]

Demikianlah, bahwa marah merupakan tabi'at jiwa manusia. Sehingga
tidaklah tercela ataupun terpuji, kecuali dilihat ari sisi dampak dan
niatnya.

Wallahua'lam bisshawwab.

======================================================================

diambil dari Majalah As Sunnah 08/Tahun VI/1423 H/2002 hal 23-25

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+ laisal fataa man qola hadza abii +
+ walakinnal fataa man qola ha ana dza +
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

~ oleh 1408hijra pada Maret 25, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: