Prinsip Mengkaji Agama

PRINSIP PRINSIP MENGKAJI AGAMA
Penulis: Al Ustadz Qomar Suaidi
http://www.asysyariah.com

Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja.
Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat.
Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak
kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh
kepada pemahaman yang menyimpang!

Dewasa ini banyak sekali "jalan" yang ditawarkan untuk
mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti
mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui
berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut
sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang
menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang
mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru
umat untuk segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula
yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak
manusia ramai-ramai ke masjid.

Namun lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih
begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih
menyelimuti. Bahkan sepertinya makin bertambah parah.
Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, bila melihat
kondisi umat yang semakin jatuh dalam kegelapan, sudah
pasti ada yang salah. Mengapa mereka tidak mengajak umat
untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka
justru menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung
kesia-siaan?

Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai pewaris Nabi selalu
berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah untuk
mengajak umat kembali mempelajari agamanya. Dalam berbagai
hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan yang
telah digariskan oleh Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam.
Lebih-lebih dalam mengambil dan memahami agama di mana hal itu merupakan
sesuatu yang sangat asasi pada kehidupan. Inilah yang
sebenarnya sangat dibutuhkan umat.

Berikut kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal
Jama'ah dalam mengkaji agama, namun kami hanya akan
menyebutkan hal-hal yang sangat pokok dan mendesak untuk
diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena
banyaknya sementara ruang yang ada terbatas.

Makna Manhaj

Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang
ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah:

Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan
minhaj (Al-Maidah: 48)

Kata minhaj, sama dengan kata manhaj . Kata minhaj dalam
ayat tersebut diterangkan oleh Imam ahli tafsir Ibnu
Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan
yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir
menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68 dan Mu'jamul
Wasith).

Yang diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk
menjelaskan jalan yang ditempuh Ahlussunnah dalam
mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah, insya Allah
kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan
dalam mendapatkan ilmu agama. Inilah rambu-rambu yang
harus dipegang dalam mencari ilmu agama:

1. Mengambil ilmu agama dari sumber aslinya yaitu Al
Qur'an dan As Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb
kalian dan jangan kalian mengikuti para pimpinan
selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran
darinya." (Al-A'raf: 3)
Dan Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al Qur?an dan yang
serupa dengannya bersamanya." (Shahih, HR. Ahmad dan Abu
Dawud dari Miqdam bin Ma'di Karib. Lihat Shahihul Jami'
N0. 2643)

2. Memahami Al Qur?an dan As Sunnah sesuai dengan
pemahaman salafus shalih yakni para sahabat dan yang
mengikuti mereka dari kalangan tabi'in dan tabi'ut
tabi'in. Sebagaimana sabda Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam:
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang
setelah mereka kemudian yang setelah mereka." (Shahih, HR
Bukhari dan Muslim)

Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang
mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik
ilmu, pemahaman, pengamalan dan dakwah.

Ibnul Qayyim berkata: "Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik
generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti
bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu
kebaikan. Kalau tidak demikian, yakni mereka baik dalam
sebagian sisi saja maka mereka bukan sebaik-baik generasi
secara mutlak." (lihat Bashair Dzawis Syaraf: 62)
Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini sudah
dijamin oleh Nabi. Sehingga, kita tidak meragukannya lagi
bahwa kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat
wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu setelah
Nabi. Mereka menyaksikan di mana dan kapan turunnya wahyu
dan mereka tahu di saat apa Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam mengucapkan
hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangat mendukung
terhadap pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama
mengatakan bahwa ketika para shahabat bersepakat terhadap
sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi mereka. Dan tatkala
mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari
perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu
dari pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru
di luar pendapat mereka.

Imam Syafi'i mengatakan: "Mereka (para shahabat) di atas
kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara' (sikap hati-hati),
akal dan pada perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil
darinya ilmu. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih
utama buat kita dari pendapat kita sendiri -wallahu a'lam-
" Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat, kami
mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka
memiliki sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain
maka kita mengambil pendapatnya dan jika mereka berbeda
pendapat maka kami mengambil sebagian pendapat mereka.
Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka secara
keseluruhan." (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra: 110 dari
Intishar li Ahlil Hadits: 78].

Begitu pula Muhammad bin Al Hasan mengatakan: "Ilmu itu
empat macam, pertama apa yang terdapat dalam kitab Allah
atau yang serupa dengannya, kedua apa yang terdapat dalam
Sunnah Rasulullah atau yang semacamnya, ketiga apa yang
disepakati oleh para shahabat Nabi atau yang serupa
dengannya dan jika mereka berselisih padanya, kita tidak
boleh keluar dari perselisihan mereka, keempat apa yang
diangap baik oleh para ahli fikih atau yang serupa
dengannya. Ilmu itu tidak keluar dari empat macam ini."
(Intishar li Ahlil Hadits: 31)

Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: "Setiap pendapat
yang dikatakan hanya oleh seseorang yang hidup di masa ini
dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun yang terdahulu,
maka itu salah.? Imam Ahmad mengatakan: "Jangan sampai
engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah
yang engkau tidak punya pendahulu padanya." (Majmu'
Fatawa: 21/291)

Hal itu -wallahu a'lam- karena Nabi bersabda:
"Sesungguhnya Allah melindungi umatku untuk berkumpul di
atas kesesatan." (Hasan, HR Abu Dawud no:4253, Ibnu
Majah:395, dan Ibnu Abi Ashim dari Ka'b bin Ashim no:82,
83 dihasankan oleh As Syaikh al Albani dalam Silsilah As-
Shahihah:1331]
Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang
diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah.
Karena jika demikian berarti mereka telah berkumpul di
atas kesalahan. Karenanya pasti kebenaran itu ada pada
salah satu pendapat mereka, sehingga kita tidak boleh
keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari
pendapat mereka, maka dipastikan salah sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di atas.

3. Tidak melakukan taqlid atau ta'ashshub (fanatik)
madzhab. Allah berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan
janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.
Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya)."
(Al-A'raf: 3)

"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan
apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukuman-Nya." (Al-Hasyr: 7)

Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk mengikuti apa
yang diturunkan Allah baik berupa Al Qur'an atau hadits.
Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya
berarti harus ditinggalkan. Imam Syafi'i mengatakan: "Kaum
muslimin bersepakat bahwa siapapun yang telah jelas
baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh berpaling darinya
kepada ucapan seseorang, siapapun dia." (Sifat Shalat
Nabi: 50)

Demikian pula kebenaran itu tidak terbatas pada pendapat
salah satu dari Imam madzhab yang empat. Selain mereka,
masih banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang
lebih dulu dari mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan:
"Sesungguhnya tidak seorangpun dari ahlussunnah mengatakan
bahwa kesepakatan empat Imam itu adalah hujjah yang tidak
mungkin salah. Dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan
bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar
darinya berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari
pengikut Imam-imam itu seperti Sufyan Ats Tsauri, Al
Auza'i, Al Laits bin Sa'ad dan yang sebelum mereka atau
Ahlul Ijtihadyang setelah mereka mengatakan sebuah
pendapat yang menyelisihi pendapat Imam-imam itu, maka
perselisihan mereka dikembalikan kepada Allah ƒ¹ dan
Rasul-Nya, dan pendapat yang paling kuat adalah yang
berada di atas dalil." (Minhajus Sunnah: 3/412 dari Al
Iqna': 95).

Sebaliknya, ta'ashshub (fanatik) pada madzhab akan
menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak
heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab
mengatakan: "Setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami
maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus
ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang lain)."

Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan
ayat atau hadits. Bahkan ta'ashub semacam itu membuat
kesan jelek terhadap agama Islam sehingga menghalangi
masuk Islamnya seseorang sebagaimana terjadi di Tokyo
ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan ditunjukkan
kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk
memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang
Jawa atau Indonesia mereka menyarankan untuk memilih
madzhab Syafi'i. Mendengar jawaban-jawaban itu mereka
sangat keheranan dan bingung sehingga sempat menghambat
dari jalan Islam [Lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi hal:
68 edisi bahasa Arab)

4. Waspada dari para da'i jahat. Jahat yang dimaksud bukan
dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan
keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang
menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal Jama?ah, sedikit
atau banyak. Di antara ciri-ciri mereka adalah yang suka
berdalil dengan ayat-ayat yang belum begitu jelas maknanya
untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan itu
mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para
pengikutnya. Allah berfirman:
"Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari
kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari
ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan
ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui
takwilnya kecuali Allah." (Ali-Imran: 7)

Ibnu Katsir mengatakan: "Menginginkan fitnah artinya ingin
menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan bahwa
mereka berhujjah dengan Al Qur'an untuk (membela) bid?ah
mereka padahal Al Qur'an itu sendiri menyelisihinya. Ingin
mentakwilkannya artinya menyelewengkan maknanya sesuai
dengan apa yang mereka inginkan." (Tafsir Ibnu Katsir:
1/353]

5. Memilih guru yang dikenal berpegang teguh kepada Sunnah
Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan mu'amalah.
Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga
tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam
mengambilnya tanpa peduli dari siapa dia dapatkan karena
ini akan berakibat fatal sampai di akhirat kelak. Maka ia
harus tahu siapa yang akan ia ambil ilmu agamanya.

Jangan sampai dia ambil agamanya dari orang yang memusuhi
Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah atau tidak pernah
diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini yang
dipelajari adalah akidah-akidah yang salah atau mendapat
ilmu hanya sekedar hasil bacaan tanpa bimbingan para ulama
Ahlussunnah. Sangat dikhawatirkan, ia memiliki
pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.

Seorang tabi'in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan:
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari
siapa kalian mengambil agama kalian." Beliau juga berkata:
"Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad
(rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka
tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada
kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada
Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat
kepada ahlul bid'ah lalu menolak haditsnya." (Riwayat
Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)

Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Keberkahan itu berada pada orang-orang besar kalian."
(Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abdil Bar dari
Ibnu Abbas, dalam kitab Jami' Bayanul Ilm hal:614 dengan
tahqiq Abul Asybal, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahihul Jami':2887 dan As Shahihah:1778)

Dalam ucapan Abdullah bin Mas'ud:
"Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari
orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya dari
orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka
akan binasa.' Diriwayatkan pula yang semakna dengannya
dari shahabat Umar bin Khattab. (Riwayat Ibnu Abdil Bar
dalam Jami' Bayanul Ilm hal: 615 dan 616, tahqiq Abul
Asybal dan dishahihkan olehnya)

Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama)
maksud dari hadits di atas: "Bahwa yang dimaksud dengan
orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang
semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa padahal
tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang
berilmu tentang segala hal. Atau yang mengambil ilmu dari
para shahabat." (Lihat Jami' Bayanil Ilm: 617).

6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal atau rasio, karena
agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan akal.
Allah berkata kepada Nabi-Nya:
"Katakanlah (Ya, Muhammad): "sesungguhnya aku memberi
peringataan kepada kalian dengan wahyu."." (Al-Anbiya: 45)
"Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur'an) menurut
kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 3-4)

Sungguh berbeda antara wahyu yang bersumber dari Allah
Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti wahyu tersebut
memiliki kesempurnaan, dibanding akal yang berasal dari
manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun
lemah.

Jadi tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang
jelas dari Al Qur'an ataupun hadits yang shahih karena
tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan
akalnya di hadapan keduanya.

Ali bin Abi Thalib berkata: "Seandainya agama ini dengan
akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki
yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada
saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh
aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya."
(shahih, HR Abu Dawud dishahihkan As-Syaikh Al Albani
dalam Shahih Sunan Abu Dawud no:162).
Pada ucapan beliau ada keterangan bahwa dibolehkan
seseorang mengusap bagian atas khuf-nya atau kaos kaki
atau sepatunya ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya
jika terpenuhi syaratnya sebagaimana tersebut dalam
buku-buku fikih. Yang jadi bahasan kita disini adalah
ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian
bawahnya. Padahal secara akal yang lebih berhak diusap
adalah bagian bawahnya karena itulah yang kotor.

Ini menunjukkan bahwa agama ini murni dari wahyu dan kita
yakin tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat dan
fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak
memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi
syariat melihat dari pertimbangan lain yang belum kita
mengerti.

Jangan sampai ketidakmengertian kita menjadikan kita
menolak hadits yang shahih atau ayat Al Qur?an yang datang
dari Allah yang pasti membawa kebaikan pada makhluk-Nya.
Hendaknya kita mencontoh sikap Ali bin Abi Thalib di atas.

Abul Mudhaffar As Sam'ani menerangkan Akidah Ahlussunnah,
katanya: "Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan
Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka, mencari agama
dari keduanya. Adapun apa yang terbetik dalam akal dan
benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau
mereka dapati sesuai dengan keduanya mereka terima dan
bersyukur kepada Allah yang telah memperlihatkan hal itu
dan memberi mereka taufik. Tapi kalau mereka dapati tidak
sesuai dengan keduanya mereka meninggalkannya dan
mengambil Kitab dan Sunnah lalu menuduh salah terhadap
akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan
menunjukkan kecuali kepada yang haq (kebenaran), sedangkan
pendapat manusia kadang benar kadang salah." (Al-Intishar
li Ahlil Hadits: 99)

Ibnul Qoyyim menyimpulkan bahwa pendapat akal yang tercela
itu ada beberapa macam:
a. Pendapat akal yang menyelisihi nash Al Qur'an atau As
Sunnah.
b. Berbicara masalah agama dengan prasangka dan perkiraan
yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari
nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum darinya.
c. Pendapat akal yang berakibat menolak asma (nama)
Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau
qiyas yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.
d. Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid'ah dan
matinya Sunnah.
e. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dengan
anggapan baik dan prasangka.
Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah
yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil
syariat. (lihat, I'lam Muwaqqi'in: 1/104-106, Al-
Intishar: 21,24, dan Al Aql wa Manzilatuhu)

7. Menghindari perdebatan dalam agama. Nabi
ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas
petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal
(berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: "Bahkan
mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan"." (Hasan,
HR Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As
Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no: 5633)

Ibnu Rajab mengatakan: "Di antara sesuatu yang diingkari
para Imam salafus shalih adalah perdebatan,
berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu
bukan jalannya para Imam agama ini." (Fadl Ilm Salaf 57
dari Al-Intishar: 94).

Ibnu Abil Izz menerangkan makna mira' (berbantah-bantahan)
dalam agama Allah adalah membantah ahlul haq (pemegang
kebenaran) dengan menyebutkan syubhat-syubhat ahlul
bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan
menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini
mengandung ajakan kepada kebatilan dan menyamarkan yang
hak serta merusak agama Islam. (Syarh Aqidah Thahawiyah:
313)

Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan yang
paling baik. Firman-Nya:
"Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau'idhah
(nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling
baik." (An-Nahl: 125).

Para ulama menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik
bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak
baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin
dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab
dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu
serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul
dari hasil perdebatan mereka. Juga bersikap adil serta
menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran.
(lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611 dan
Ar-Rad 'Alal Mukhalif hal:56-62).

Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah
perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka
berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan
tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu' Fatawa 24/172)

Inilah beberapa rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama
sebagaimana terdapat dalam Al Qur'an maupun hadits yang
shahih serta keterangan para ulama. Kiranya itu bisa
menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini,
sehingga kita berharap bisa beragama sesuai yang
diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

========================================================================
Hai orang-orang yang beriman, sukakah Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada
Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [As Shaff : 10-11]
========================================================================

~ oleh 1408hijra pada Maret 19, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: