•April 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rahmat Islam Untuk Rahmat Purnomo
Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi 11 Tahun I/26 Dzul Hijjah
1423 H/28 Februari 2003 M
===================

Dia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia
dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau
kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah
agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.

Kakeknya adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi
pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya
juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan
ibunya sebagai pengajar Injil untuk kaum wanita, adapun
dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang
dakwah di sebuah gereja bethel Injil sabino.

Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit untuk menjadi
seorang Muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan
pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan kepadaku
bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya
ilmu, tak dapat membaca dan menulis. Bahkan lebih dari
itu, aku telah membaca buku profesor doktor Ricolady,
seorang nashrani dari Perancis bahwa Muhammad itu seorang
dajjal yang tinggal di tempat ke sembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi
Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sejak itulah tertanam
pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak
Islam dan menjadikannya sebagai agama.

Pada suatu hari, pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di kecamatan Dairi,
letaknya cukup jauh dari ibukota Medan yang terletak di
sebelah selatan pulau Sumatera, Indonesia. Setelah
selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di
tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di
hadapanku lalu bertanya dengan pertanyaan aneh : “Engkau
telah mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah tuhan, mana
dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku menjawab : “Baik ada
dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu,
jika kamu mau beriman, berimanlah, jika tidak, kufurlah!”

Namun, ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu
mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di
telingaku, mendorongku untuk melihat kitab Injil, mencari
jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui
bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda,
salah satunya mathius, yang lainnya markus, yang ketiga
lukas, dan yang keempat yohannes, semuanya buatan manusia.
Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya kepada diriku :
“Apakah Al Qur’an dengan nuskhah yang berbeda-beda juga
buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tidak bisa
lari darinya dengan pasti : “Bukan!”

Aku mempelajari keempat Injil tersebut lalu apa yang
kudapatkan? Injil mathius berbicara apa tentang Al Masih
Isa ‘Alaihis Salam? Kami membaca di dalamnya sebagai
berikut :

“Sesungguhnya Isa Al Masih bernasab kepada Ibrahim dan
kepada Daud … .” (1-1)

Lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya,
kalau begitu dia manusia. Injil lukas berkata :

“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk
selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33)

Dan Injil markus berkata : “Inilah silsilah yang
menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1)

Dan yang terakhir, Injil yohannes berbicara apa tentang
Isa Al Masih? Ia berkata :

“Pada awalnya ia adalah kalimat dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1)

Makna dari nash ini pada awalnya adalah Al Masih dan Al
Masih di sisi Allah, maka Al Masih adalah Allah.

Aku bertanya kepada diriku : “Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa
‘Alaihis Salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah
ataukah raja ataukah Allah?”

Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan
jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada
teman-temanku, orang-orang kristen : “Apakah didapatkan
dalam Al Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan ayat
yang lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al Qur’an
datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun
Injil-Injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan
tidak ragu kalau Isa ‘Alaihis Salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya :
“Apa landasan awal yang didakwahkan Isa ‘Alaihis Salam?”

Ini, Injil markus berkata :

Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al
Masih), mereka menerimanya dengan baik, menanyainya
tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan :
“Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah : ‘Dengarkan,
wahai Bani Israil! Rabb, Tuhan kita adalah Rabb Yang
Esa’.” (12:28-29)

Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘Alaihis Salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa
maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga
maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah
begitu?

Kemudian aku lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada
Injil yohannes nash-nash yang menunjukkan doa dan
ketundukan Isa Al Masih ‘Alaihis Salam kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Aku bertanya kepada diriku : “Jika
sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala
sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dari
doa?” Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi
dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku doa
yang terdapat dalam Injil yohannes, inilah nash doanya :

“Inilah kehidupan yang abadi, agar mengetahui bahwa
Engkaulah Tuhan yang hakiki dan berjalanlah Al Masih yang
Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang
Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah
menyempurnakannya.” (17-3-4)

Ini doa yang panjang, yang akhirnya berkata : “Wahai
Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenal-Mu dan aku
akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan
seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26)

Doa ini menggambarkan pengakuan Isa ‘Alaihis Salam bahwa
Allah, Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah
yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil
mathius (15:24), di mana ia berkata :

“Aku tidak diutus melainkan pada kaum di rumah Israil yang
sasar.”

Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya
ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan
bahwa : “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Israil.”

Kemudian aku lanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat
aku shalat aku selalu membaca kalimat berikut : “Allah
bapak, Allah anak, Allah roh kudus, tiga dalam satu.” Aku
berkata kepada diriku : “Perkara yang sangat aneh! Kalau
kita bertanya pada siswa kelas satu SD, 1+1+1=3?” Pasti
akan menjawab : “Ya.” Kemudian jika kita katakan kepadanya
: “Akan tetapi juga 3=1?” Tentu dia tidak akan menyepakati
hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas
pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘Alaihis Salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah
Esa, tidak ada serikat bagi-Nya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara akidah yang
menancap di jiwaku sejak kecil yakni “tiga dalam satu”
dengan apa yang diakui Isa Al Masih sendiri dalam
kitab-kitab Injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang,
bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat
bagi-Nya. Mana dari keduanya yang paling benar?

Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun
yang benar dikatakan, bahwa sesungguhnya Allah itu esa.
Kemudian aku cari lagi dari kitab Injil dari awal,
barangkali aku temukan apa yang aku inginkan. Sungguh
telah aku temukan dalam pencarianku nash berikut ini :

“Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku
adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada
yang menyerupai-Ku.” (46:9)

Sungguh, perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh
dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al Ikhlas,
firman Allah ta’ala :

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Katakanlah : “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak
beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia.”

Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan
berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama
pada agamaku, masihiyyah yang dulu, dengan demikian tiga
dalam satu tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di
sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan
awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam
‘Alaihis Salam ketika memakan buah yang diharamkan dari
pohon yang berada di Surga, pasti seluruh anak manusia
akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam
rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam
keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari
tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada
perjanjian lama, di tengah pencarianku aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut :

“Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak.
Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak … .”
(Hizqiyal 18:20-21)

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini, apa
yang dikatakan Al Qur’anul Karim pada masalah ini :

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain … .”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang
tuanya-lah yang akan menjadikannya nashrani atau
menjadikannya majusi.”

Inilah dia, kaidah dalam Islam dan menyepakatinnya apa
yang ada/datang dalam Injil, lalu bagaimana Isa dikatakan
bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke
generasi lainnya dan bahwa manusia dilahirkan dalam
keadaan berdosa?

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang
berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari aku letakkan
Injil dan Al Qur’an di depanku, kutujukan pertanyaan pada
Injil : “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya : “Tidak ada, karena nama Muhammad tidak
terdapat dalam Injil.” Kemudian kutujukan pertanyaan
berikutnya pada Isa seperti Al Qur’an telah bercerita
tentangnya : “Wahai Isa Ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya : “Sungguh Al Qur’an
telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan
sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang
setelahku namanya adalah Ahmad.” Allah berfirman atas
lisan Isa ‘Alaihis Salam :

Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata : “Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul
yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad),
maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : Ini adalah sihir
yang nyata.” (QS. Ash Shaff : 6)

Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil Barnabas berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun
sayang para pemuka-pemuka agamanya (nashrani) mengharamkan
pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang
paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang
memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya
terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya terdapat pula kenyataan yang sesuai dengan
apa yang ada dalam Al Qur’anul Karim. Dalam Injil Barnabas
(Ishaah : 163) :

Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih : “Wahai
guru! Siapa yang akan datang sesudahmu?” Al Masih menjawab
dengan senang dan gembira : “Muhammad utusan Allah pasti
akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas,
yakni ucapannya pada (Ishaah : 72) :

Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al Masih : “Wahai
guru! Saat Muhammad datang, apa tanda-tandanya hingga kami
mengenalnya?” Al Masih menjawab : “Muhammad tidak akan
datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus
tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan
orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak
sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah akan
mengutus penutup para Nabi dan Rasul-Rasul, yaitu Muhammad
Rasulullah.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan
sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang
Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya
sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku berazzam (bertekad kuat) untuk
keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku kecuali Islam.
(Lihat Kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail
Al Muqaddim)

Para pembaca rahimakumullah, demikianlah Islam yang dibawa
oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai rahmat
bagi semesta alam menuntut kita selaku para pemeluknya
untuk bersyukur. Allah berfirman :

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)-mu dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-Nya
dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridlai kesyukuranmu
itu dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia
memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di
(dada)-mu.” (QS. Az Zumar : 7)

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan,
wallahul haadi ila sabilir rasyad.

Pertama, manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu.
Allah berfirman : “Manusia dahulunya hanyalah satu umat
kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu
ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah
telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu.” (QS. Yunus : 19)

Kedua, Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman :

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu), tidak ada tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al
Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa
yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat
kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah : “Aku
menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula)
orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada
orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada
orang-orang yang ummi : “Apakah kamu (mau) masuk Islam?”
Jika mereka masuk Islam sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu
hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 18-20)

Ketiga, aqidah tauhid adalah fitrah manusia. Allah
berfirman :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kelak kamu tidak
mengatakan : “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Atau agar kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak
dahulu sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat
dahulu?” (QS. Al A’raf : 172-173)

Keempat, petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman :

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah dan (janganlah kamu percaya) bahwa
akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan
kepadamu dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah :
“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah
memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui.”
(QS. Ali Imran : 73)

Kelima, Isa ‘Alaihis Salam adalah Nabi dan Rasul Allah.
Allah berfirman :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam
agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam
itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan
kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan :
“(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). Itu
lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit
dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara. (QS. An Nisa’ : 171)

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari

(Diringkas Dari Kitab ‘Uluwul Himmah)

Idola Kita, Siapa?

•April 2, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

MUKADDIMAH

Bila kita memperhatikan fenomena dan gejala yang memasyarakat saat ini
di dalam mencari panutan atau lebih trend lagi dengan sebutan "sang
idola", maka kita akan menemukan hal yang sangat kontras dengan apa
yang terjadi pada abad-abad terdahulu, khususnya pada tiga abad utama
(al-Qurûn al-Mufadldlalah).

Kalau dulu, orang begitu mengidolakan manusia-manusia pilihan dan
berakhlaq mulia di kalangan mereka seperti para ulama dan orang-orang
yang shalih. Maka, kondisi itu sekarang sudah berubah total. Orang
-orang sekarang cenderung menjadikan manusia-manusia yang tidak karuan
dari segala aspeknya sebagai idola. Mereka mengidolakan para pemain
sepakbola, kaum selebritis, paranormal dan tokoh-tokoh maksiat pada
umumnya. Anehnya, hal ini didukung oleh keluarga bahkan diberi spirit
sedemikian rupa agar anaknya kelak bisa menjadi si fulanah yang artis,
atau si fulan yang pemain sepakbola dan seterusnya. Lebih aneh lagi
bahwa mereka berbangga-bangga dengan hal itu.

Tentunya ini sangat ironis karena sebagai umat Islam yang mayoritas
seharusnya mereka harus memahami ajaran agama secara benar sehingga
tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang di dalamnya.
Ketidaktahuan akan ajaran agama ini akan berimplikasi kepada masa
depan mereka kelak karena ini menyangkut keselamatan dan ketentraman
mereka di dalam meniti kehidupan di dunia ini.

Bahkan pada sebagian masyarakat kita, telah muncul gejala yang lebih
serius dan mengkhawatirkan lagi, yaitu pengkultusan terhadap sosok
yang dianggap sebagai tokoh tanpa menyelidiki terlebih dahulu sisi
'aqidah dan akhlaqnya. Tokoh idola ini diikuti semua perkataan dan
ditiru semua perbuatannya tanpa ditimbang-timbang lagi, apakah yang
dikatakan atau dilakukan itu benar atau salah menurut agama bahkan
sebaliknya, perkataan dan perbuatannya justru menjadi acuan benar
tidaknya menurut agama…naûdzu billahi min dzalik.

Yang lebih memilukan lagi, sang idola yang tidak ketahuan
juntrungannya tersebut memposisikan dirinya sebagaimana yang dianggap
oleh para pengidolanya. Mereka berlagak sebagai manusia-manusia suci
pada momen-momen yang memang suci seperti pada bulan Ramadhan, hari
Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adlha. Mereka diangkat sedemikian rupa
oleh mass media dan media visual maupun audio visual seperti surat
kabar, majalah, internet, radio dan televisi.

Pada momen-momen tersebut, mereka seakan mengisi semua hari-hari para
pengidola bahkan non pengidolapun tak luput dari itu. Mereka
menganggap bahwa diri merekalah yang paling mengetahui apa yang harus
dilakukan secara agama pada momen-momen tersebut. Maka
dipersembahkanlah berbagai tayangan program dan acara untuk
menyemarakkan syi'ar bulan Ramadhan tersebut – menurut anggapan
mereka- . Tampak, pada momen-momen tersebut mereka seakan menjadi
manusia paling suci dan panutan semua… Yah! Untuk sesaat saja!.

Sesungguhnya, apa yang mereka lakukan itu tak lain hanyalah racun yang
dipaksakan kepada ummat untuk diteguk, mulai dari racun dengan reaksi
lambat, sedang bahkan cepat tergantung kepada daya tahan dan tingkat
kekebalan peneguknya.

Selanjutnya, akankah kita membiarkan anggota keluarga kita meneguk
racun-racun tersebut, baru kemudian menyesali apa yang telah terjadi?.

Maka untuk mengetahui siapa yang seharusnya dijadikan sebagai idola
oleh seorang Muslim dan bagaimana implikasi-implikasinya?. Kajian
hadits kali ini sengaja mengangkat tema tersebut, mengingat hampir
semua rumah kaum Muslimin telah dimasuki oleh salah satu atau
kebanyakan mass media dan media tersebut.

Semoga kita belum terlambat untuk menyelamatkan keluarga kita sehingga
racun-racun tersebut dapat dilenyapkan dan dimusnahkan.

NASKAH HADITS

Dari Abu Wa-il dari 'Abdullah (bin Mas'ud), dia berkata: "seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah sembari berkata: 'wahai Rasulullah!
Apa pendapatmu terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum
padahal dia belum pernah (sama sekali) berjumpa dengan mereka?'.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "seseorang itu
adalah bersama orang yang dia cintai". (H.R.Muslim)

TAKHRIJ HADITS SECARA GLOBAL

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Bukhary, at-Turmuzy, an-Nasaiy,
Abu Daud, Ahmad dan ad-Darimy.

PENJELASAN HADITS

Di dalam riwayat yang lain, disebutkan dengan lafazh "Engkau bersama
orang yang engkau cintai". Demikian pula dengan hadits yang maknanya:
"Ikatan Islam yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan
membenci karena Allah".

Anas bin Malik mengomentarinya: "Setelah keislaman kami, tidak ada
lagi hal yang membuat kami lebih gembira daripada ucapan Rasulullah:
'engkau bersama orang yang engkau cintai' ". Lalu Anas
melanjutkan:"Kalau begitu, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, Abu
Bakar serta 'Umar. Aku berharap kelak dikumpulkan oleh Allah
bersama mereka meskipun aku belum berbuat seperti yang telah mereka
perbuat".

Imam an-Nawawy, setelah menyebutkan beberapa hadits terkait dengan
hadits diatas, menyatakan: "Hadits ini mengandung keutamaan mencintai
Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang shalih, orang-orang yang suka
berbuat kebajikan baik yang masih hidup atau yang telah mati. Dan
diantara keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah menjalankan
perintah dan menjauhi larangan keduanya serta berakhlaq dengan akhlaq
islami. Di dalam mencintai orang-orang yang shalih tidak mesti
mengerjakan apa saja yang dikerjakannya sebab bila demikian halnya
maka berarti dia adalah termasuk kalangan mereka atau seperti mereka.
Pengertian ini dapat diambil dari hadits setelah ini, yakni (ucapan
seseorang yang bertanya tentang pendapat beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam mengenai) seseorang yang mencintai suatu kaum sementara dia
tidak pernah sama sekali bertemu dengan mereka (seperti yang tersebut
di dalam hadits diatas-red)…".

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah mengaitkan makna cinta tersebut selama
seseorang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya sebab orang yang mencintai
Allah, maka dia pasti mencintai para Nabi-Nya karena Dia Ta'ala
mencintai mereka dan mencintai setiap orang yang meninggal di atas
iman dan taqwa. Maka mereka itulah Awliya Allah (para wali Allah) yang
Allah cintai seperti mereka yang dipersaksikan oleh Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam masuk surga, demikian pula dengan Ahli Badar dan
Bai'ah ar-Ridlwan. Jadi, siapa saja yang telah dipersaksikan oleh
Rasulullah masuk surga, maka kita bersaksi untuknya dengan hal ini
sedangkan orang yang tidak beliau persaksikan demikian, maka terjadi
perbedaan pendapat di kalangan para ulama; sebagian ulama mengatakan:

'tidak boleh dipersaksikan bahwa dia masuk surga dan kita juga
tidak bersaksi bahwa Allah mencintainya'.

Sedangkan sebagian yang lain mengatakan:

'justeru orang yang memang dikenal keimanan dan ketakwaannya
di kalangan manusia serta kaum Muslimin telah bersepakat memuji
mereka seperti 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, al-Hasan al-Bashry, Sufyan
ats-Tsaury, Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi'iy, Ahmad, Fudlail bin
'Iyadl, Abu Sulaiman ad-Darany (al-Kurkhy), 'Abdullah bin Mubarak
dan selain mereka, kita mesti bersaksi bahwa mereka masuk surga'.

Diantara dalil yang digunakan oleh kelompok kedua ini adalah hadits
shahih yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
melewati suatu jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka
beliau berkata: "pasti, pasti". Kemudian lewat lagi suatu jenazah lalu
mereka bersaksi untuknya dengan kejelekan, maka beliau berkata:
"pasti, pasti". Mereka lantas bertanya: "wahai Rasulullah! Apa maksud
ucapanmu : 'pasti, pasti tersebut ?'. beliau menjawab: "jenazah ini
kalian puji dengan kebaikan, maka aku katakan: 'pasti ia masuk surga'.
Dan jenazah satunya, kalian bersaksi dengan kejelekan untuknya, maka
aku katakan: 'pasti dia masuk neraka'. Lalu ada yang bertanya kepada
beliau: "bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?". Beliau
menjawab: "dengan pujian baik atau jelek".

KLASIFIKASI MAHABBAH (KECINTAAN)

Mahabbah ada beberapa jenis:

PERTAMA, al-Mahabbah Lillah (kecintaan karena Allah) ; jenis ini tidak
menafikan tauhid kepada-Nya bahkan sebagai penyempurna sebab ikatan
keimanan yang paling kuat adalah kecintaan karena Allah dan kebencian
karena Allah.

Refleksi dari kecintaan karena Allah adalah bahwa kita mencintai
sesuatu karena Allah Ta'ala mencintainya baik ia berupa orang atau
pekerjaan, dan inilah yang merupakan penyempurna keimanan.

Diantara contoh yang menjelaskan perbedaan antara kecintaan kepada
Allah dan selain Allah adalah antara apa yang dilakukan oleh Abu Bakar
dan Abu Thalib; Abu Bakar mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
karena semata-mata mengharap ridla Allah sedangkan Abu Thalib, paman
Nabi mencintai diri beliau dan membelanya karena mengikuti hawa
nafsunya bukan karena Allah sehingga Allah menerima amal Abu Bakar dan
tidak menerima amal Abu Thalib.

KEDUA, al-Mahabbah ath-Thabî'îyyah (kecintaan yang alami) dimana
seseorang tidak mendahulukannya dari kecintaannya kepada Allah ; jenis
ini juga tidak menafikan kecintaan kepada Allah. Contohnya adalah
seperti kecintaan terhadap isteri, anak dan harta.

Oleh karena itu, tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanyai
tentang siapa manusia yang paling engkau cintai?. Beliau menjawab:
'Aisyah. Lalu beliau ditanyai lagi: dari kalangan laki-laki siapa?.
Beliau menjawab: ayahnya (yakni Abu Bakar).

Demikian juga kecintaan seseorang kepada makanan, pakaian dan selain
keduanya yang bersifat alami.

KETIGA, al-Mahabbah ma'a Allah (kecintaan berbarengan dengan kecintaan
kepada Allah) yang menafikan tauhid kepada-Nya; yaitu menjadikan
kecintaan kepada selain Allah seperti kecintaan kepada-Nya atau
melebihinya dimana bila kedua kecintaan itu saling bertolak belakang,
seseorang lebih mengutamakan kecintaan kepada selain-Nya ketimbang
kepada-Nya. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menjadikan
kecintaan tersebut sebagai sekutu bagi Allah yang lebih diutamakannya
atas kecintaan kepada-Nya atau –paling tidak- menyamainya.

Diantara contoh kecintaan kepada selain Allah adalah seperti kecintaan
kaum Nashrani terhadap 'Isa al-Masih 'alaihissalam, kecintaan kaum
Yahudi terhadap Musa 'alaihissalam, kecintaan kaum Syi'ah Rafidlah
terhadap 'Aly radliallahu 'anhu, kecintaan kaum Ghulat (orang-orang
yang melampaui batas dan berlebih-lebihan) terhadap para syaikh dan
imam mereka seperti orang yang menunjukkan loyalitas terhadap seorang
Syaikh atau Imam dan menghasut orang lain agar menjauhi orang yang
dianggap rival atau saingannya padahal masing-masing mereka hampir
sama atau sama di dalam kedudukan dan kualitas kelimuan. Ini sama
dengan kondisi Ahlul Kitab yang beriman kepada sebagian Rasul dan
kufur kepada sebagian yang lain; kondisi kaum Syi'ah Rafidlah yang
menunjukkan loyalitas terhadap sebagian shahabat dan memusuhi sebagian
besar yang lainnya, demikian pula kondisi orang-orang yang fanatik
dari kalangan Ahli Fiqih dan Zuhud yang menunjukkan sikap loyalitas
terhadap para syaikh dan imam mereka dengan menganggap remeh orang
-orang selain mereka yang sebenarnya hampir sama atau selevel dengan
para syaikh dan imam mereka tersebut. Seorang Mukmin sejati adalah
orang yang menunjukkan loyalitas terhadap semua orang yang beriman
sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu bersaudara".

Perbedaan Antara Klasifikasi Pertama Dan Ketiga

Perbedaan antara klasifikasi pertama, yakni al-Mahabbah lillah
(kecintaan karena Allah) dan klasifikasi ketiga, yakni al-Mahabbah
ma'a Allah (kecintaan berbarengan dengan kecintaan kepada Allah)
tampak jelas sekali, yaitu;

- bahwa Ahli syirik menjadikan sekutu-sekutu yang mereka cintai sama
seperti kecintaan mereka kepada Allah bahkan lebih,

- sedangkan orang-orang yang beriman dan ahli iman sangat mencintai
Allah, ini dikarenakan asal kecintaan mereka adalah mencintai Allah
dan barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan mencintai orang
yang dicintai oleh Allah; dan barangsiapa yang dicintai oleh-Nya,
maka dia akan mencintai-Nya. Jadi, orang yang dicintai oleh orang
yang dicintai oleh Allah adalah dicintai oleh Allah karena dia
mencintai Allah; barangsiapa yang mencintai Allah, maka Allah akan
mencintainya sehingga kemudian dia mencintai orang yang dicintai
oleh-Nya.

URGENSI MENCINTAI ALLAH DAN RASUL-NYA

Kewajiban pertama seorang hamba adalah mencintai Allah Ta'ala karena
merupakan jenis ibadah yang paling agung sebagaimana firman-Nya : "Dan
orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah". (Q,.s.al
-Baqarah/01: 165). Hal ini dikarenakan Dia Ta'ala adalah Rabb yang
telah berkenan memberikan kepada semua hamba-Nya nikmat-nikmat yang
banyak baik secara lahir maupun bathin.

Kewajiban berikutnya adalah mencintai Rasul-Nya, Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam sebab beliaulah yang mengajak kepada Allah,
memperkenalkan-Nya, menyampaikan syari'at-Nya serta menjelaskan kepada
manusia hukum-hukum-Nya. Jadi, semua kebaikan yang didapat oleh
seorang mukmin di dunia dan akhirat semata adalah berkat perjuangan
Rasulullah. Seseorang tidak akan masuk surga kecuali bila ta'at dan
mengikuti beliau shallallahu 'alaihi wa sallam .

Di dalam hadits yang lain disebutkan:
"Tiga hal yang bila ada pada seseorang maka dia akan merasakan
manisnya iman; (pertama)bahwa dia menjadikan Allah dan Rasul-Nya
lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya; (kedua) dia
mencintai seseorang hanya karena Allah; (ketiga) dia benci untuk
kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah darinya
sebagaimana dia benci dirinya dicampakkan ke dalam api neraka".
(Hadits Muttafaqun 'alaih)

Dalam hal ini, mencintai Rasulullah yang menempati peringkat kedua
merupakan sub-ordinasi dan konsekuensi dari mencintai Allah Ta'ala.
Khusus dengan kewajiban mencintai Rasulullah dan mendahulukannya atas
kecintaan terhadap siapapun dari Makhluk Allah, terdapat hadits beliau
yang berbunyi (artinya) :
"Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga aku menjadi
orang yang paling dicintainya daripada anaknya, ayahnya serta
seluruh manusia". (Hadits Muttafaqun 'alaih).

Lebih dari itu, hendaknya kecintaannya terhadap Rasulullah melebihi
kecintaannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana disebutkan di dalam
hadits bahwa 'Umar bin al-Khaththab radliallahu 'anhu pernah berkata:

"Wahai Rasulullah! Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala
sesuatu selain daripada diriku". Lalu beliau bersabda: "demi
Yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga engkau jadikan aku lebih
engkau cintai daripada dirimu sendiri". Lantas 'Umar berkata
kepada beliau: "Kalau begitu, sekarang engkau lebih aku cintai
daripada diriku sendiri". Beliau berkata kepadanya: "Sekaranglah,
wahai 'Umar!". (H.R.Bukhary).

Imam Ibn al-Qayyim berkata: "Setiap mahabbah (kecintaan) dan
pengagungan terhadap manusia hanya boleh menjadi sub-ordinasi dari
kecintaan kepada Allah dan pengagungan terhadap-Nya, yaitu seperti
kecintaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
pengagungan terhadapnya karena hal ini merupakan sarana penyempurna
kecintaan terhadap utusan-Nya dan pengagungan terhadap-Nya.
Sesungguhnya, umat mencintai Rasul mereka karena kecintaan Allah,
pengagungan-Nya serta pemuliaan-Nya terhadap dirinya. Inilah bentuk
kecintaan yang merupakan konsekuensi dari kecintaan kepada Allah".

IMPLIKASI DARI KECINTAAN KEPADA SELAIN ALLAH DAN RASUL-NYA YANG
BERLEBIHAN

Dimuka telah dijelaskan bahwa kita sangat menginginkan agar
dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai, yaitu orang-orang
yang shalih dan dikenal ketaqwaannya. Sementara itu menurut satu
pendapat, juga kita dibolehkan bersaksi untuk orang yang memang
dikenal oleh kalangan luas ketaqwaan dan keshalihannya serta umat
telah bersepakat memujinya seperti imam-imam madzhab yang empat.

Di samping itu, telah disebutkan bahwa ada dua pendapat terkait dengan
persaksian masuk surga terhadap orang yang belum dipersaksikan
demikian oleh Rasulullah dimana salah satu pendapat berdalil dengan
salah satu sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang memberikan
kriteria, yaitu adanya pujian baik dan jelek dari manusia.

Dari sini, sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam, Ibnu
Taimiyyah bahwa sebenarnya banyak di kalangan para syaikh yang
terkenal di masa beliau yang bisa jadi bukan orang berilmu, bahkan
melakukan amalan sesat, kemaksiatan dan dosa-dosa yang menghalangi
diri mereka dari persaksian orang terhadap mereka dengan kebaikan.
Bahkan bisa jadi, diantara mereka ada orang Munafiq dan Fasiq, juga
tidak menutup kemungkinan ada orang yang termasuk wali-wali Allah yang
benar-benar bertaqwa dan beramal shalih serta termasuk hizb-Nya yang
mendapatkan kemenangan. Disamping itu, ada pula kelompok manusia
selain para syaikh tersebut yang dikategorikan sebagai para wali Allah
dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa -dimana mereka itu masuk surga
- seperti para pedagang, petani dan selain mereka dari kelas sosial
lainnya yang ada di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, menurut Syaikhul Islam, barangsiapa yang meminta agar
kelak dikumpulkan dengan seorang Syaikh yang dia tidak tahu bagaimana
akhir hidupnya maka dia telah sesat, bahkan seharusnya dia meminta
agar dikumpulkan oleh Allah dengan orang yang dia ketahui akhir
hidupnya yaitu para Nabi dan hamba-hamba-Nya yang shalih sebagaimana
firman Allah Ta'ala: "…dan jika kamu berdua bantu-membantu
menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan
(begitu pula) Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari
itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula". (Q,.s. 66/at-Tahrim:
4).

Di dalam firman-Nya yang lain: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah
Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)". (Q,.s.
5/al-Ma-idah: 55). Demikian pula di dalam firman-Nya: "Dan barangsiapa
mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang
pasti menang". (Q,.s. 5/al-Ma-idah: 56).

Maka, berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, kembali menurut Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, siapa saja yang mencintai seorang Syaikh/tuan
guru yang menyelisihi syari'at, maka dia kelak akan bersamanya; bila
si Syaikh dimasukkan ke dalam neraka, maka dia akan bersamanya disana.
Sebab secara lumrah sudah diketahui bahwa para Syaikh yang menyimpang
dan menyelisihi Kitabullah dan as-Sunnah adalah orang-orang yang sesat
dan jahil, karenanya; barangsiapa yang bersama mereka, maka jalan
akhir dari kehidupannya adalah sama seperti jalan akhir dari kehidupan
orang-orang tersebut (ahli kesesatan dan kejahilan). Sedangkan
mencintai orang yang termasuk para wali Allah yang bertaqwa seperti
Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, 'Aly dan selain mereka adalah merupakan
ikatan keimanan yang paling kokoh dan sebesar-besar kebaikan yang akan
diraih oleh orang-orang yang bertaqwa. Andaikata seseorang mencintai
seseorang yang lain lantaran melihat kebaikan yang tampak pada dirinya
yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan mengganjarnya
pahala atas kecintaannya terhadap apa yang dicintai oleh Allah dan
Rasul-Nya meskipun dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan
di dalam bathinnya (orang tersebut) karena hukum asalnya adalah
mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai oleh-Nya; barangsiapa
yang mencintai Allah dan apa yang dicintai oleh-Nya, maka dia termasuk
wali Allah akan tetapi kebanyakan manusia sekarang hanya mengaku-aku
saja bahwa dirinya mencintai tetapi tanpa teliti dan realisasi yang
benar. Allah berfirman: "Katakanlah (wahai Muhammad)! Jika kalian
mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian
dan mengampuni semua dosa kalian".

Ayat ini turun terhadap suatu kaum di masa Rasulullah yang mengaku-aku
bahwa mereka mencintai Allah.

Mencintai Allah dan Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa
memiliki konsekuensi melakukan hal-hal yang dicintai-Nya dan menjauhi
hal-hal yang tidak disukai-Nya sementara manusia di dalam hal ini
memiliki perbedaan yang signifikan; barangsiapa yang di dalam hal
tersebut berhasil meraup jatah yang banyak, maka dia akan meraih
derajat yang paling besar pula di sisi Allah.

Sedangkan orang yang mencintai seseorang karena mengikuti hawa
nafsunya seperti dia mencintainya karena ada urusan yang bersifat
duniawy yang ingin diraihnya, karena suatu hajat tertentu, karena
harta yang dia menumpang makan kepada si empunya-nya, atau karena
fanatisme terhadapnya, dan semisal itu; maka ini semua itu bukan
termasuk kecintaan karena Allah tetapi (kecintaan) karena hawa nafsu
belaka. Kecintaan seperti inilah yang menjerumuskan para pelakunya ke
dalam kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK DARI HADITS TERSEBUT

- Kewajiban pertama seorang hamba adalah mencintai Allah, setelah itu
diikuti dengan kewajiban berikutnya, yaitu mencintai Rasul-Nya yang
merupakan subordinasi dan konsekuensi dari mencintai Allah tersebut.

- Seseorang kelak akan dikumpulkan bersama orang yang diidolakan dan
dicintainya; maka hendaknya yang menjadi idola kita adalah Allah dan
Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang shalih dan bertaqwa.

- Persaksian terhadap seseorang masuk surga atau tidak boleh dilakukan
bila memang termasuk orang yang sudah dipersaksikan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan terhadap orang yang banyak
dipuji dan dipersaksikan oleh orang banyak; maka terdapat perbedaan
pendapat tentang kebolehannya.

- Hendaknya semua makhluk mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam; tidak menyembah selain Allah dan beribadah kepada-Nya dengan
syari'at Rasulullah, bukan selainnya.

- Tidak boleh kita mengidolakan dan mencintai orang-orang yang dikenal
sebagai pelaku maksiat dan pengumbar hawa nafsu karena implikasinya
amat berbahaya, khususnya terhadap 'aqidah. Karenanya, bagi mereka
yang terlanjur telah mengidolakan orang-orang seperti itu yang tidak
karuan 'aqidah dan akhlaqnya, hendaknya mulai dari sekarang mencabut
pengidolaan tersebut dari hati mereka dan mengalihkannya kepada
idola yang lebih utama, yaitu Allah dan Rasul-Nya serta hamba-hamba
-Nya yang shalih dan bertaqwa. Sebab bila tidak, maka akhir hidupnya
akan seperti akhir hidup orang-orang yang diidolakannya yang tidak
karuan juntrungannya tersebut, na'ûdzu billahi min dzalik. Wallahu
a'lam

REFERENSI:

1. "Majmu' al-Fatawa" Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, pasal: Ma'na
hadîts "al-Mar-u ma'a man Ahabb"

2. Kitab "at-Tauhid" karya Syaikh Shalih al-Fauzan

3. Kitab "al-Qaul al-Mufîd 'ala kitab at-Tauhîd" karya Syaikh Muhammad
bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, jld. I, hal. 151)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+ laisal fataa man qola hadza abii +
+ walakinnal fataa man qola ha ana dza +
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
function ada(re) { var s; s = jajal.buffer.value; r = s.search(re); return(r); } //if (ada(‘IFRAME’) == -1) //document.write(”); //else //document.write(”);

Marah yang Terpuji

•Maret 25, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam kehidupan ini, terkadang manusia mengalami ketidaksabaran dan
kemarahan. Terutama pada saat seseorang merasa ada gangguan yang
menimpanya. Atau ketika ingin membalas gangguan yang telah menimpanya.
Baik berkaitan dengan hati, badan, harta, kehormatan atau lainnya. Dan
kemarahan itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa
perkataan maupun perbuatan yang haram. Tetapi sesungguhnya tidaklah
semua kemarahan itu tercela, bahkan ada yang terpuji.

Seseorang yang marah karena perkara-perkara dunia, maka kemarahan
seperti ini tercela. [Lihat Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhus Shalihin
I/112, Syaikh Salim Al Hilali]

Oleh karenanya Rosulullah shallallahu'alaihi wasallam menasihati
seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata
kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam: "Berilah wasiat kepadaku"
Nabi menjawab, "Janganlah engkau marah." Laki-laki tadi mengulangi
perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda, "Janganlah engkau
marah" [HR Bukhari no 6116]

Maka jika seseorang ditimpa kemarahan, jangan sampai kemarahan itu
menguasai dirinya. Karena jika telah dikuasai oleh kemarahan, maka
kemarahan itu bisa menjadi pengendali yang akan memerintah dan
melarang kepada dirinya.

Janganlah melampiaskan kemarahan. Karena kemarahan itu sering menyeret
kepada perkara yang haram. Seperti: mencaci, menghina, menuduh,
berkata keji dan perkataan haram lainnya. Atau memukul, menendang,
membunuh dan perbuatan lainnya.

Tetapi hendaklah mengendalikan diri dan emosinya agar tidak
melampiaskan kemarahan, sehingga keburukan kemarahan itu akan hilang.
Bahkan kemarahan akan segera reda dan hilang. Seolah-olah tadi tidak
marah. Sifat seperti inilah yang dipuji oleh Allah dan RasulNya. Allah
berfirman: (artinya)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang
-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS Ali Imran: 133-134]

Juga firmanNya: (artinya)

"Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah
kenikmatan hidup di dunia. Dan yang ada pada sisi Allah lebih
baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya
kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal dan (bagi) orang-orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf." [QS Asy Syura: 36-37]

Demikian juga orang yang mampu mengendalikan emosinya itu dipuji oleh
Rosulullah dan dijanjikan dengan bidadari surga.

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi
wasallam bersabda, "Siapakah yang kamu anggap sebagai shura'ah (=orang
kuat, jago gulat, orang yang banyak membanting orang lain) ?" Kami
menjawab, "Seseorang yang tidak dapat dijatuhkan oleh orang lain."
Beliau bersabda, "Bukan itu, tetapi shura'ah yaitu orang yang dapat
menguasai dirinya ketika marah." [HR Muslim no 2608]

Beliau juga bersabda,

"Barangsiapa menahan kemarahan, padahal mampu melampiaskannya,
niscaya pada hari kiamat Allah Azza Wa Jalla akan memanggilnya di
hadapan seluruh makhluk, sehingga Allah memberinya hak memilih
di antara bidadari surga yang dia kehendaki."
[HR Abu Dawud no 4777, Tirmidzi no 2021, Ibnu Majah no 4186 dan
Ahmad III/440. Dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali dalam Iqadhul
Himam]

Untuk mengatasi kemarahan yang menimpa seseorang, Rosulullah
shalallahu'alaihi wasallam telah memberikan resep-resep
pengendaliannya. Dapat kami sebutkan secara ringkas [lihat Bahjatun
Nadhirin, hal 112]: "

Pertama, mengucapkan ta'awudz (mohon perlindungan kepada Allah dari
gangguan syaithan)
Kedua, Diam, tidak berbicara.
Ketiga, jika dia berdiri, hendaknya duduk. Jika belum reda, hendaklah
berbaring.

Syaikh Muhammad Nadhim Sulthan berkata, "Kemarahan tercela adalah
kemarahan pada selain al haq, tetapi mengikuti hawa nafsu, dan seorang
hamba yang melewati batas dengan perkataannya, dengan mencela,
menuduh, dan menyakiti saudara-saudaranya dengan kalimat-kalimat
menyakitkan. Sebagaimana dia melewati batas dalam kemarahannya dengan
perbuatannya, lalu memukul dan merusak harta benda orang lain."
[Qawaid wal Fawaid Minal Arba'in Nawawiyah, hal 147]

Jika kita telah mengetahui hal ini, maka marilah menengok bersama
terhadap panutan dan tauladan kita, Nabi Muhamman shallallahu'alaihi
wasallam. Bahwa beliau memiliki kesabaran luar biasa yang layak untuk
kita contoh. Perhatikanlah perkataan Anas bin Malik di bawah ini:

Dari Tsabit, dia berkata, Anas radhiyallahu'anhu bercerita kepada
kami, dia berkata, "Aku menjadi pembantu Rosulullah
shallallahu'alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak
pernah berkata kepadaku: "huh". Juga tidak pernah mengatakan
kepadaku (ketika aku melakukan sesuatu), "Kenapa engkau melakukan ?" Dan
tidak pernah mengatakan kepadaku (ketika aku tidak melakukan
sesuatu): "Tidakkah engkau melakukan ?"
[HR Bukhari no 6038, Muslim no 2309]

Marah yang terpuji adalah kemarahan karena Allah, karena Al-haq, dan
karena al haq, dan untuk membela agamaNya. Khususnya ketika perkara
-perkara yang diharamkan Allah dilanggar. *6

Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata, "Kewajiban atas seorang mukmin
(yaitu) agar syahwatnya (kesenangannya) terbatas untuk mencari apa
yang dibolehkan oleh Allah baginya . Hendaklah meraih syahwat yang
dibolehkan tersebut dengan niat yang baik, sehingga mendapatkan
pahala. Dan hendaknya kemarahan seorang mukmin itu untuk menolak
gangguan dalam agama yang menimpanya atau menimpa orang lain dan untuk
menghukum orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan RosulNya. Allah
berfirman:

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan
(perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang
yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. [QS At
Taubah: 14-15]

Jika kita telah mengetahui hal di atas, maka hendaklah kita tahu bahwa
begitulah keadaan Nabi shallallahu'alaihi wasallam. Yaitu beliau
tidaklah membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya, tetapi
beliau membalas dengan hukuman jika perkara-perkara yang diharamkan
Allah dilanggar.

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, "Tidaklah Rosulullah
shallallahu'alihi wasallam disuruh memilih di antara dua perkara sama
sekali, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya,
selama hal itu bukan merupakan dosa. Jika hal itu merupakan dosa,
maka beliau adalah manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah
beliau membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya di dalam
sesuatu sama sekali. Kecuali jika perkara-perkara yang diharamkan
Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman terhadap
perkara itu karena Allah." [HR Bukhari no 6126, Muslim 2327]

Demikian juga beliau tidak pernah memukul pembantu atau seseorang, kecuali
jika berjihad di jalan Allah

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, "Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul sesuatu
dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan
tidak pernah memukul seorang pembantu. Beliau memukul jika berjihad di
jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu sama
sekali, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali jika ada
sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar,
maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah Azza wa
Jalla." [HR Muslim no 2328 , Abu Dawud no 4786, Ibnua Majah no 1984]

Aisyah radhiallahu'anha pernah ditanya tentang akhlak Rosulullah
shallallahu'alaihi wasallam, maka dia menjawab, "Akhlak Nabi
shallallahu'alaihi wasallam adalah Al Qur'an." [HR Muslim no 746]

Imam Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah berkata, "Yang dimaksudkan
oleh Aisyah radhiallahu'anha yaitu, bahwa beliau shallallahu'alahi
wasallam beradab dengan adab-adab Al Qur'an dan berakhlak dengan
akhlak-akhlak Al Qur'an. Apa saja yang dipuji oleh Al Qur'an, maka
itulah yang beliau ridhai (sukai). Dan apa saja yang dicela oleh Al
Qur'an, maka itulah yang beliau murkai." [Jami'ul Ulul wal Hikam:
I/370, Tahqiq Syu'aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis]

Jika melihat atau mendengar apa yang dimurkai Allah, maka beliau
shallallahu'alaihi wasallam marah karenanya, beliau berbicara tentangnya.
Beliau tidak diam !

Di antara sebagian sikap beliau tentang hal tersebut, ialah:

Aisyah radhiallahu'anha berkata,

"Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam datang dari safar (bepergian),
sedangkan aku telah menutupkan sebuah tirai pada sebuah rak. Pada
tirai itu terdapat gambar-gambar (yaitu gambar manusia atau hewan).
Maka setelah beliau melihatnya, lalu mencabut tirai tersebut dan
bersabda, "Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah
orang-orang yang menyamai (menandingi) ciptaan Allah. (yakni para
pembuat patung / gambar makhluk bernyawa)" Aisyah berkata, "Maka
tirai itu kami jadikan sebuah bantal atau dua bantal." [HR Bukhari no
5954, Muslim 2107]

Abu Mas'ud Al Anshari radhiallahu'anhu berkata, "Seorang lelaki
menghadap Rosulullah shallallahu'alaihi wasallam lalu berkata,
"Sesungguhnya aku memperlambat shalat Shubuh disebabkan oleh si Fulan
(imam shalat) yang memanjangkan shalat dengan kami."
Maka tidaklah aku melihat Nabi shallallahu'alaihi wasallam marah dalam
memberikan nasihat sama sekali yang lebih hebat dari kemarahan beliau
pada hari itu. Lantas beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya di
antara kamu itu ada orang-orang yang membikin manusia lari (dari
agama)! Siapa saja di antara kamu yang mengimami orang banyak, maka
hendaklah dia meringkaskan (yakni tidak shalat dengan panjang dan
lama). Karena sesungguhnya di belakangnya (yang menjadi makmum) ada
orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang memiliki
keperluan." [HR Muslim no 466]

Abdullah bin Umar berkata, bahwa Rosulullah shallallahu'alaihi
wasallam melihat ludah pada dinding kiblat (masjid), lalu beliau
membuangnya, kemudian menghadap kepada orang-orang dan bersabda, "Jika
salah seorang di antara kamu sedang shalat, maka janganlah meludah ke
arah wajahnya, karena sesungguhnya Allah di arah wajahnya jika dia
sedang shalat." [HR Bukhari no 406 dan lainnya]

Demikianlah, bahwa marah merupakan tabi'at jiwa manusia. Sehingga
tidaklah tercela ataupun terpuji, kecuali dilihat ari sisi dampak dan
niatnya.

Wallahua'lam bisshawwab.

======================================================================

diambil dari Majalah As Sunnah 08/Tahun VI/1423 H/2002 hal 23-25

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+ laisal fataa man qola hadza abii +
+ walakinnal fataa man qola ha ana dza +
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Do’a Nabi Sulaiman A.S.

•Maret 25, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

DO’A NABI SULAIMAN

“Ya Tuhanku, jadikan aku agar aku (senantiasa) mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kedua orang tuaku, dan agar aku (senantiasa) mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi serta jadikanlah aku termasuk dalam hamba-Mu yang sholih.”

Do’a Nabi Sulaiman a.s. di atas beliau ikrarkan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas curahan nikmat-Nya yang Ia berikan kepada rasul-Nya itu. Seperti diketahui, Nabi Sulaiman termasuk nabi yang paling kaya dalam urusan materi atau kekayaan dibandingkan dengan nabi-nabi lain yang kebanyakan hidup sederhana. Nikmat berupa materi atau kekayaan itu masih ditambah oleh Allah SWT dengan kekuasaan untuk menundukkan segala makhluk dari binatang sampai jin untuk dijadikan Nabi Sulaiman sebagai tentaranya.

Terkenal dalam sejarah sebagaimana diabadikan Al-Qur’an tentang kisah-kisah binatang tentara Nabi Sulaiman a.s seperti semut dan burung Hud-hud, juga kisah jin ifrit yang mencoba memindahkan singgasana Ratu Balqis namun masih dapat dikalahkan oleh manusia dan berbagai kisah-kisah tentara Nabi Sulaiman lainnya baik dari golongan binatang, manusia, maupun jin. Dalam kisah-kisah tersebut bertebaran do’a-do’a indah Nabi Sulaiman. Pantaslah bila kita turut berdo’a sebagaimana para nabi berdo’a.

Bila kita kaji do’a Nabi Sulaiman di atas dapat kita ambil beberapa intisari. Pertama, Nabi Sulaiman memohon kepada Allah SWT agar selalu dijadikan hamba-Nya yang senantiasa bersyukur. Syukur, tidak sebatas berucap “alhamdulillah” atau “terima kasih Tuhan” tetapi syukur haruslah diwujudkan dengan peningkatan kualitas keimanan berupa amal shalih berupa ibadah mahdloh, ghairu mahdloh, atau muamalat sesama manusia. Banyak orang yang telah diberikan nikmat begitu banyak oleh Allah SWT tetapi malah semakin jauh dari Rabb-nya alias ingkar nikmat (kuffur). Bagi orang-orang seperti ini berlakulah sunnatullah yang dijanjikan-Nya dalam Surah Ibrahim:7 yaitu azab yang sangat pedih. Na’udzubillah min dzalik! Sedangkan bagi hamba yang bersyukur (syukur) sebagaimana janji Allah dalam ayat yang sama akan mendapat tambahan nikmat tiada tara. Maka, sungguh beruntunglah orang-orang yang syukur itu. Intisari kedua, Nabi Sulaiman memohon agar senantiasa diberi kekuatan untuk beramal shalih. Di samping beramal shalih sebagai perwujudan syukur seperti diterangkan tadi, ada beberapa alasan kenapa kita harus beramal shalih. Satu diantaranya ialah sadar akan tujuan utama diciptakannya manusia dan jin. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Surah Adz-Dzariyat:56, manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ibadah dalam artian luas adalah segala amal shalih sebagai perwujudan penghambaan makhluk kepada Khaliq. Ibadah tidaklah bernilai atau berarti alias ghairu maqbul bila tidak dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Itulah mengapa dalam Al-Qur’an kata amal shalih dirangkaikan setelah kata iman.

Intisari selanjutnya, permohonan Nabi Sulaiman agar Allah memasukkannya ke dalam golongan hamba-Nya yang sholeh. Pada dasarnya, seluruh makhluk Allah SWT adalah hamba-Nya. Tetapi, atas kasih sayang Allah SWT tidaklah dijadikan semua makhluk itu hamba-Nya yang sholeh melainkan hanya sebagian saja. Dalam Islam, penghambaan terhadap Allah SWT merupakan tingkatan kecintaan yang tertinggi yang justru meningkatkan harkat, derajat, martabat, harga diri, nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini berbeda dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah yang kebanyakan hanyalah menyengsarakan manusia dan menjatuhkan nilai kemanusiaan. Sedangkan hamba yang sholeh ialah hamba yang mana tingkatan penghambaan kepada Allah SWT paling baik alias paling taqwa dengan menyerahkan diri sepenuhnya ( muslim kaffah) kepada Allah SWT dengan penuh kerelaan hati. Dan inilah yang diseru oleh Allah,“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridlo dan diridloi. Maka masuklah ke (golongan) hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al Fajr) Apakah kita sudah pantas diseru oleh Allah dengan seruan tersebut di akhir kehidupan kita kelak?

Pacaran

•Maret 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lukman Amirudin Syarif, (luasy-01@plasa.com)

 

Pertanyaan:

1.        Bagaimana hukum Islam tentang pacaran?

2.        Bagaimana Islam memandang wanita? (contoh kasus di Afganistan saat Thaliban berkuasa wanita dilarang keluar rumah atau ikut berpolitik atau ikut berolahraga)

3.        Apakah ada dasar dari al-Qur’an atau Hadits yang menyatakan bahwa umat Islam yag memiliki dosa besar maupun kecil akan mampir dulu ke neraka baru masuk surga?

 

Jawaban:

 

Pertanyaan no. 1:

Pacaran” dalam kamus bahasa Indonesia mempunyai beberapa arti (Purwodarminto, 1976) :

1.        Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, bersuka-sukaan mencapai apa yang disenangi mereka.

2.        Pacaran berarti “bergendak” yang sama artinya dengan berkencan atau berpasangan untuk berzina.

3.        Pacaran berarti berteman dan saling menjajaki kemungkinan untuk mencari jodoh berupa suami atau istri.

Pacaran menurut arti pertama dan kedua jelas dilarang oleh agama Islam, berdasarkan nash:

a. Allah berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً ( الإسراء: 32)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”

b. Hadits:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ ( رواه البخاري: 2784, مسلم: 2391)

“Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta  ada mahramnya” (muttafaq alaihi)

Perkawinan merupakan sunnah Rasulullah dengan arti bahwa suatu perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah agar kaum muslimin melakukannya. Orang yang anti perkawinan dicela oleh Rasulullah, berdasarkan hadits:

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي * (رواه البخاري: 4675, مسلم: 2487)

“Dari Anas ra. Bahwasanya Nabi saw berkata: …tetapi aku, sesungguhnya aku salat, tidur, berbuka dan mengawini perempuan, maka barangsiapa yang benci sunnahku maka ia bukanlah dari golonganku”

Pada umumnya suatu perkawinan terjadi setelah melalui beberapa proses, yaitu proses sebelum terjadi akad nikah, proses akad nikah dan proses setelah terjadi akad nikah. Proses sebelum terjadi akad nikah melalui beberapa tahap, yaitu tahap penjajakan, tahap peminangan dan tahap pertunangan. Tahap penjajakan mungkin dilakukan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan atau sebaliknya, atau pihak keluarga masing-masing. Rasulullah memerintahkan agar pihak-pihak yang melakukan perkawinan melihat atau mengetahui calon jodoh yang akan dinikahinya, berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ نَظَرْتَ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا ( رواه النسائ: 3194, إبن ماجه و الترمذي)

“Dari Abu Hurairah ra ia berkata: berkata seorang laki-laki sesungguhnya ia telah meminang seorang permpuan Anshar, maka berkata Rasulullah kepadanya: “Apakah engkau telah melihatnya? Laki-laki itu menjawab: “Belum”. Berkata Rasulullah: “Pergilah dan perhatikan ia, maka sesungguhnya pada mata perempuan Anshor ada sesuatu” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah, at-Tirmizi, dan dinyatakannya sebagai hadits hasan)

Rasulullah saw memerintahkan agar kaum muslimin laki-laki dan perempuan sebelum memutuskan untuk meminang calon jodohnya agar berusaha memilih jodoh yang mungkin berketurunan, sebagaimana dinyatakan pada hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ اْلأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ *( رواه أحمد : 12152, وصححه إبن حبان)

“Dari Anas ra. Rasulullah saw memerintahkan (kaum muslimin) agar melakukan perkawinan dan sangat melarang hidup sendirian (membujang). Dan berkata: Kawinilah olehmu wanita yang pencinta dan peranak, maka sesungguhnya aku bermegah-megah dengan banyaknya kamu di hari kiamat”

Dari kedua hadits diatas dipahami bahwa ada masa penjajakan untuk memilih calon suami atau isteri sebelum menetapkan keputusan untuk malakukan peminangan. Penjajakan ini mungkin dilakukan oleh pihak laki-laki atau pihak perempuan atau keluarga mereka. Jika dalam penjajakan ini ada pihak yang diabaikan terutama calon isteri atau calon suami maka yang bersangkutan boleh membatalkan pinangan akan perkawinan tersebut, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اْلأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا قَالَ نَعَمْ * ( رواه مسلم: 2545, البخاري: 4741)

“Dari Ibnu Abbas, ra, bahwasanya Rasululah saw bersabda: Orang yang tidak mempunyai jodoh lebih berhak terhadap (perkawinan) dirinya dibanding walinya, dan gadis dimintakan perintah untuk perkawinannya dan (tanda) persetujuannya ialah diamnya” (muttafaq alaih)

Dan hadits:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( رواه أبوداود: 1794, أحمد: 2340, إبن ماجه: 1865)

“Dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya jariah seorang gadis datang menghadap rasulullah saw dan menyampaikan bahwa bapaknya telah mengawinkannya dengan seorang laki-laki, sedang ia tidak menyukainya. Maka Rsulullah saw menyuruhnya untuk memilih (apakah menerima atau tidak)”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan ad-Daraquthni)

Masa penjajakan ini dapat disamakan dengan masa pacaran menurut pengertian ketiga di atas. Setelah masa pacaran dilanjutkan dengan masa meminang, jika peminangan diterima maka jarak antara masa peminangan dan masa pelaksanaan akad nikah disebut masa pertunangan. Pada masa pertunangan ini masing-masing pihak harus menjaga diri mereka masing-masing karena hukum hubungan mereka sama dengan hubungan orang-orang yang belum terikat dengan akad nikah.

Rasulullah saw memberi tuntunan bagi orang yang dalam masa pacaran atau dalam masa petunangan sebagi berikut:

1.        Pada masa pacaran atau masa pertunangan antara mereka yang bertunangan dan pacaran adalah seperti hubungan orang-orang yang tidak ada hubungan mahram atau belum melaksanakan akad nikah, karena itu mereka harus:

a.         Memelihara matanya agar tidak melihat aurat pacar atau tunangannya, begitu pula wanita atau laki-laki yang lain. Melihat saja dilarang tentu lebih dilarang lagi merabanya.

b.        Memelihara kehormatannya atau kemaluannya agar tidak mendekati perbuatan zina.

2.        Untuk menjaga ‘a’ dan ‘b’ dianjurkan sering melakukan puasa-puasa sunat, kerena melakukan puasa itu merupakan perisai baginya. Hal diatas dipahami dari hadits:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ * (رواه مسلم: 2486, البخاري: 1772)

“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata,  Rasulullah saw mengatakan kepada kami: Hai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang telah sanggup melaksanakan akad nikah, hendaklah melaksanakannya. Maka sesungguhnya melakukan akad nikah itu (dapat) menjaga pandangan dan memlihar farj (kemaluan), dan barangsiapa yang belum sanggup hendaklah ia berpuasa (sunat), maka sesunguhnya puasa itu perisai baginya” (muttafaq alaih)

 

 

 

 

 

Jawaban soal kedua tentang kedudukan wanita dalam pandangan Islam

 

Agama Islam memandang kedudukan perempuan sama dengan kedudukan laki-laki seperti memandang kedudukan manusia pada umumnya, sebagaimana dinyatakan nash-nash berikut:

1.        Perempuan sebagiman manusia pada umumnya diciptakan Allah sebagi makhlukNya yang paling baik dibanding makhluk-makhluNya yang lain, Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ( التين: 4)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

2.        Allah memuliakan menusia. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً ( الإسراء: 70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

3.        Allah SWT menjadikan manusia sebagi khalifah di bumi. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً (البقرة: 30)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”..

Allah sebagai Dzat Yang Maha Pencipta lagi Maha Tahu, mengetahui dengan sungguh-sungguh kekuatan dan kelemahan manusia, sedang manusia sendiri bukanlah makhluk yang paling tahu tentang hakikat, kekuatan dan kelemahan dirinya. Dalam pada itu Allah berkehendak agar manusia tetap dalam keadaannya, ialah sebagai makhluk yang terbaik, sebagi makhluk yang mulia dan sebagi khalifatullah fil ardh.

Untuk menutupi kelemahan-kelemahan manusia dalam menjalankan tugasnya, Allah SWT menurunkan petunjuk berupa al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan menjadikan Nabi Muhammad sebagi panutan dan ikutan dalam melaksanakan petunjuk itu.

Sekalipun laki-laki dan perempuan kedudukannya sama di sisi Allah SWT, namun menurut kodratnya laki-laki berbeda dengan perempuan. Kerena perbedaan kodrat itu Allah menetapkan petunjuk-petunjuk yang sama antara kedua jenis itu dan ada pula petunjuk-petunjuk yang berbeda, sesuai dengan kodratnya, sehingga masing-masing mereka dapat menjadi makhluk terbaik, makhluk yang mulia dan dapat pula melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.

Kedua jenis ini harus ada dalam usaha memakmurkan bumi, keduanya harus bahu membahu, bekerja sama, tidak boleh ada yang kurang dari salah satu dari dua jenis itu.

Seandainya ada perbedaan dalam pelaksanaan syariat Islam pada suatu negara tentang laki-laki dan wanita, maka hal ini disebabkan perbedaan penafsiran terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, mungkin pula karena pengaruh kepercayaan yang telah berurat berakar pada suatu negara atau karena adat istiadat yang berlaku di negara itu.

 

Jawaban pertanyaan ketiga, tentang ada orang mukmin yang masuk neraka dahulu sebelum masuk ke surga

Hadits-hadits Nabi saw menerangkan bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan masuk surga, sekalipun di antara mereka ada yang masuk surga secara bertahap. Maksudnya ialah ia masuk neraka lebih dahulu sebagai imbalan dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia, kemudian setelah habis masa siksaannya itu ia dimasukkan Allah kedalam surga, berdasarkan hadis berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوِ الْحَيَاةِ شَكَّ مَالِكٌ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً قَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرٌو الْحَيَاةِ وَقَالَ خَرْدَلٍ مِنْ خَيْرٍ * (رواه البخاري: 21, مسلم: 270)

“Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dari Nabi saw, ia bersabda: Penghuni surga kan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian Allah ta’ala memrintahkan: Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi. Maka dikeluarkanlah mereka dari neraka yang warna (badannya) benar-benar hitam, lalu dimasukkan kedalam sungai hidup atau sungai kehidupan, lalu tumbuhlah mereka seperti biji yang tumbuh setelah air bah, adakah engkau tidak melihatnya, sesungguhnya ia keluar bewarna kuning yang melilit.” (muttafaq alahi)

Dan Hadis:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِي أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً  ( رواه مسلم: 272, البخاري: 6086)

“Dari Abdullah bin Mas’ud ra, berkata: bersabda Nabi saw : Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui penduduk neraka terakhir masuk neraka dan penduduk surga terakhir masuk surga. Seorang laki-laki keluar dari neraka dengan merangkak, maka Allah memerintahkan (kepada orang itu): “Pergilah dan masuklah ke surga!” Laki-laki itu mendatangi surga itu sambil mengkhayalkan bahwa surga itu telah penuh. Lalu ia kembali dan berkata: “Wahai Tuhan aku dapati surga itu telah penuh.” Allah memerintahkan: “Pergilah dan masuklah ke surga!” Maka ia mendatanginya sambil mengkhayalkan bahwa surga itu telah penuh. Lalu ia kembali dan berkata: “Wahai Tuhan aku dapati surga itu telah penuh.” Maka Allah berfirman: “Pergilah dan masuklah ke surga, maka sesungguhnya (surga) itu semisal dunia dan sepuluh kalinya atau sesungguhnya surga itu sepuluh kali dunia.” Laki-laki itu berkata: “Engkau mengejek dan menertawakanku sedangkan Engkau pemilik(nya).” Aku (Ibnu Mas’ud) melihat Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Dan pernah pula dikatakan: “Yang demikian itu adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.” (muttafaq alahi)

Kedua hadis di atas menjelaskan bahwa ada orang yang beriman yang sebelum masuk surga, ia masuk neraka lebih dahulu, yang lamanya sesuai dengan berat atau ringannya dosa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Banyak hadis yang lain yang senada dan sama artinya dengan hadis diatas. (baca al-Lu’lu’ wal Marjan, hadits no. 118, 119, 120 dan sebagainya)

Sejarah Islam

•Maret 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

> ** KISAH NYATA DI SELA-SELA INQUISISI ANDALUSIA **
>
>
> Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ
> terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
> terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
> Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika
> 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak,
> sepatu 'jenggel'milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan
> mendarat di wajah mereka.
>
> Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar
> seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
> "Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras
> -kerannya sembari membelalakan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki
> di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya.
> Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar
> tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
> Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan
> yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu
> menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya
> yang menyala.
>
> Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
> pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata
> Rabbi, wa ana'abduka... Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu
> serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai
> ustadz...InsyaAllah tempatmu di Syurga."
>
> Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama
> tahanan,'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia
> diperintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh
> orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua
> busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku
> tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
>
> Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam
> kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan
> geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi
> di sini.
>
> Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau
> minta maaf dan masuk agama kami." Mendengar "khutbah" itu orang tua
> itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan
> dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku sangat merindukan kematian,
> agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah.
> Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera
> menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika
> aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."
> Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat
> diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai
> penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju
> penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf
> Roberto bermaksud memungutnya.
>
> Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan
> menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!"
> bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa
> untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustadz dengan tatapan
> menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil
> jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.
>
> Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari
> -jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang
> patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
> Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang
> yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi
> ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang
> telah hancur.
>
> Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
> membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah
> lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah
> mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini."
> suara hati Roberto bertanya-tanya.
>
> Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga
> puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan
> "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu
> dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.
> Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas
> -nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya
> yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat
> peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa
> masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu
> teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan
> besar di negeri tempat kelahirannya ini.
>
> Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi
> (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat
> itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak
> berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa
> puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang
> terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang
> kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di
> udara.
>
> Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup
> pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang
> dibawa oleh para rahib. Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur
> tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi
> yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.
> Bocah mmungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang
> terkulai lemah di tiang gantungan.
>
> Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah
> bernyawa, sembari menggayuti abuyanya. Sang bocah berkata dengan suara
> parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi
> telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta,
> tsa....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi..."
>
> Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua
> menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus
> berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya
> bocaah itu berteriak memanggil bapaknya "Abi...Abi...Abi..." Namun ia
> segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin
> sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
>
> "Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba
> mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..."
> jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba
> ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
>
> "Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
> Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. "Hai
> bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
> Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf
> Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau
> kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki
> itu.
>
> Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak
> laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya
> keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama
> mereka.
>
> Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke
> arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat
> pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki
> itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,
> "Abi...Abi...Abi..."
>
> Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.
> Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul,
> bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci
> milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika
> hendak menidurkannya.
>
> Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian
> pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta
> nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya
> selama ini.
>
> Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu
> dengan spontan menyebut, "Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..."
>
> Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
>
> Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat
> yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat
> seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
>
> "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku
> pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah
> mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air
> matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun
> kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya,
> ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran
> ALlah.
>
> Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. "Anakku, pergilah
> engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau
> kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah
> engkau di negeri itu,"
>
> Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir
> dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha ilAllah, wa
> asyahadu anna Muhammad Rasullullah...'. Beliau pergi dengan menemui
> Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang
> fana ini.
>
> Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya
> dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di
> masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai
> penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
>
>
> Benarlah firman ALlah...
> "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah,
> tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia
> menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.
> Itulah agama yang lurus,
> tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS>30:30)
>

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+ laisal fataa man qola hadza abii +
+ walakinnal fataa man qola ha ana dza +
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Prinsip Mengkaji Agama

•Maret 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

PRINSIP PRINSIP MENGKAJI AGAMA
Penulis: Al Ustadz Qomar Suaidi
http://www.asysyariah.com

Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja.
Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat.
Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak
kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh
kepada pemahaman yang menyimpang!

Dewasa ini banyak sekali "jalan" yang ditawarkan untuk
mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti
mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui
berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut
sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang
menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang
mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru
umat untuk segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula
yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak
manusia ramai-ramai ke masjid.

Namun lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih
begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih
menyelimuti. Bahkan sepertinya makin bertambah parah.
Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, bila melihat
kondisi umat yang semakin jatuh dalam kegelapan, sudah
pasti ada yang salah. Mengapa mereka tidak mengajak umat
untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka
justru menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung
kesia-siaan?

Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai pewaris Nabi selalu
berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah untuk
mengajak umat kembali mempelajari agamanya. Dalam berbagai
hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan yang
telah digariskan oleh Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam.
Lebih-lebih dalam mengambil dan memahami agama di mana hal itu merupakan
sesuatu yang sangat asasi pada kehidupan. Inilah yang
sebenarnya sangat dibutuhkan umat.

Berikut kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal
Jama'ah dalam mengkaji agama, namun kami hanya akan
menyebutkan hal-hal yang sangat pokok dan mendesak untuk
diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena
banyaknya sementara ruang yang ada terbatas.

Makna Manhaj

Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang
ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah:

Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan
minhaj (Al-Maidah: 48)

Kata minhaj, sama dengan kata manhaj . Kata minhaj dalam
ayat tersebut diterangkan oleh Imam ahli tafsir Ibnu
Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan
yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir
menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68 dan Mu'jamul
Wasith).

Yang diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk
menjelaskan jalan yang ditempuh Ahlussunnah dalam
mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah, insya Allah
kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan
dalam mendapatkan ilmu agama. Inilah rambu-rambu yang
harus dipegang dalam mencari ilmu agama:

1. Mengambil ilmu agama dari sumber aslinya yaitu Al
Qur'an dan As Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb
kalian dan jangan kalian mengikuti para pimpinan
selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran
darinya." (Al-A'raf: 3)
Dan Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al Qur?an dan yang
serupa dengannya bersamanya." (Shahih, HR. Ahmad dan Abu
Dawud dari Miqdam bin Ma'di Karib. Lihat Shahihul Jami'
N0. 2643)

2. Memahami Al Qur?an dan As Sunnah sesuai dengan
pemahaman salafus shalih yakni para sahabat dan yang
mengikuti mereka dari kalangan tabi'in dan tabi'ut
tabi'in. Sebagaimana sabda Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam:
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang
setelah mereka kemudian yang setelah mereka." (Shahih, HR
Bukhari dan Muslim)

Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang
mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik
ilmu, pemahaman, pengamalan dan dakwah.

Ibnul Qayyim berkata: "Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik
generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti
bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu
kebaikan. Kalau tidak demikian, yakni mereka baik dalam
sebagian sisi saja maka mereka bukan sebaik-baik generasi
secara mutlak." (lihat Bashair Dzawis Syaraf: 62)
Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini sudah
dijamin oleh Nabi. Sehingga, kita tidak meragukannya lagi
bahwa kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat
wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu setelah
Nabi. Mereka menyaksikan di mana dan kapan turunnya wahyu
dan mereka tahu di saat apa Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam mengucapkan
hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangat mendukung
terhadap pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama
mengatakan bahwa ketika para shahabat bersepakat terhadap
sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi mereka. Dan tatkala
mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari
perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu
dari pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru
di luar pendapat mereka.

Imam Syafi'i mengatakan: "Mereka (para shahabat) di atas
kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara' (sikap hati-hati),
akal dan pada perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil
darinya ilmu. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih
utama buat kita dari pendapat kita sendiri -wallahu a'lam-
" Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat, kami
mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka
memiliki sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain
maka kita mengambil pendapatnya dan jika mereka berbeda
pendapat maka kami mengambil sebagian pendapat mereka.
Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka secara
keseluruhan." (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra: 110 dari
Intishar li Ahlil Hadits: 78].

Begitu pula Muhammad bin Al Hasan mengatakan: "Ilmu itu
empat macam, pertama apa yang terdapat dalam kitab Allah
atau yang serupa dengannya, kedua apa yang terdapat dalam
Sunnah Rasulullah atau yang semacamnya, ketiga apa yang
disepakati oleh para shahabat Nabi atau yang serupa
dengannya dan jika mereka berselisih padanya, kita tidak
boleh keluar dari perselisihan mereka, keempat apa yang
diangap baik oleh para ahli fikih atau yang serupa
dengannya. Ilmu itu tidak keluar dari empat macam ini."
(Intishar li Ahlil Hadits: 31)

Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: "Setiap pendapat
yang dikatakan hanya oleh seseorang yang hidup di masa ini
dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun yang terdahulu,
maka itu salah.? Imam Ahmad mengatakan: "Jangan sampai
engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah
yang engkau tidak punya pendahulu padanya." (Majmu'
Fatawa: 21/291)

Hal itu -wallahu a'lam- karena Nabi bersabda:
"Sesungguhnya Allah melindungi umatku untuk berkumpul di
atas kesesatan." (Hasan, HR Abu Dawud no:4253, Ibnu
Majah:395, dan Ibnu Abi Ashim dari Ka'b bin Ashim no:82,
83 dihasankan oleh As Syaikh al Albani dalam Silsilah As-
Shahihah:1331]
Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang
diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah.
Karena jika demikian berarti mereka telah berkumpul di
atas kesalahan. Karenanya pasti kebenaran itu ada pada
salah satu pendapat mereka, sehingga kita tidak boleh
keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari
pendapat mereka, maka dipastikan salah sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di atas.

3. Tidak melakukan taqlid atau ta'ashshub (fanatik)
madzhab. Allah berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan
janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.
Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya)."
(Al-A'raf: 3)

"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan
apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukuman-Nya." (Al-Hasyr: 7)

Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk mengikuti apa
yang diturunkan Allah baik berupa Al Qur'an atau hadits.
Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya
berarti harus ditinggalkan. Imam Syafi'i mengatakan: "Kaum
muslimin bersepakat bahwa siapapun yang telah jelas
baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh berpaling darinya
kepada ucapan seseorang, siapapun dia." (Sifat Shalat
Nabi: 50)

Demikian pula kebenaran itu tidak terbatas pada pendapat
salah satu dari Imam madzhab yang empat. Selain mereka,
masih banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang
lebih dulu dari mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan:
"Sesungguhnya tidak seorangpun dari ahlussunnah mengatakan
bahwa kesepakatan empat Imam itu adalah hujjah yang tidak
mungkin salah. Dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan
bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar
darinya berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari
pengikut Imam-imam itu seperti Sufyan Ats Tsauri, Al
Auza'i, Al Laits bin Sa'ad dan yang sebelum mereka atau
Ahlul Ijtihadyang setelah mereka mengatakan sebuah
pendapat yang menyelisihi pendapat Imam-imam itu, maka
perselisihan mereka dikembalikan kepada Allah ƒ¹ dan
Rasul-Nya, dan pendapat yang paling kuat adalah yang
berada di atas dalil." (Minhajus Sunnah: 3/412 dari Al
Iqna': 95).

Sebaliknya, ta'ashshub (fanatik) pada madzhab akan
menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak
heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab
mengatakan: "Setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami
maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus
ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang lain)."

Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan
ayat atau hadits. Bahkan ta'ashub semacam itu membuat
kesan jelek terhadap agama Islam sehingga menghalangi
masuk Islamnya seseorang sebagaimana terjadi di Tokyo
ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan ditunjukkan
kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk
memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang
Jawa atau Indonesia mereka menyarankan untuk memilih
madzhab Syafi'i. Mendengar jawaban-jawaban itu mereka
sangat keheranan dan bingung sehingga sempat menghambat
dari jalan Islam [Lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi hal:
68 edisi bahasa Arab)

4. Waspada dari para da'i jahat. Jahat yang dimaksud bukan
dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan
keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang
menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal Jama?ah, sedikit
atau banyak. Di antara ciri-ciri mereka adalah yang suka
berdalil dengan ayat-ayat yang belum begitu jelas maknanya
untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan itu
mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para
pengikutnya. Allah berfirman:
"Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari
kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari
ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan
ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui
takwilnya kecuali Allah." (Ali-Imran: 7)

Ibnu Katsir mengatakan: "Menginginkan fitnah artinya ingin
menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan bahwa
mereka berhujjah dengan Al Qur'an untuk (membela) bid?ah
mereka padahal Al Qur'an itu sendiri menyelisihinya. Ingin
mentakwilkannya artinya menyelewengkan maknanya sesuai
dengan apa yang mereka inginkan." (Tafsir Ibnu Katsir:
1/353]

5. Memilih guru yang dikenal berpegang teguh kepada Sunnah
Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan mu'amalah.
Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga
tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam
mengambilnya tanpa peduli dari siapa dia dapatkan karena
ini akan berakibat fatal sampai di akhirat kelak. Maka ia
harus tahu siapa yang akan ia ambil ilmu agamanya.

Jangan sampai dia ambil agamanya dari orang yang memusuhi
Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah atau tidak pernah
diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini yang
dipelajari adalah akidah-akidah yang salah atau mendapat
ilmu hanya sekedar hasil bacaan tanpa bimbingan para ulama
Ahlussunnah. Sangat dikhawatirkan, ia memiliki
pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.

Seorang tabi'in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan:
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari
siapa kalian mengambil agama kalian." Beliau juga berkata:
"Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad
(rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka
tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada
kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada
Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat
kepada ahlul bid'ah lalu menolak haditsnya." (Riwayat
Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)

Nabi ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Keberkahan itu berada pada orang-orang besar kalian."
(Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abdil Bar dari
Ibnu Abbas, dalam kitab Jami' Bayanul Ilm hal:614 dengan
tahqiq Abul Asybal, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahihul Jami':2887 dan As Shahihah:1778)

Dalam ucapan Abdullah bin Mas'ud:
"Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari
orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya dari
orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka
akan binasa.' Diriwayatkan pula yang semakna dengannya
dari shahabat Umar bin Khattab. (Riwayat Ibnu Abdil Bar
dalam Jami' Bayanul Ilm hal: 615 dan 616, tahqiq Abul
Asybal dan dishahihkan olehnya)

Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama)
maksud dari hadits di atas: "Bahwa yang dimaksud dengan
orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang
semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa padahal
tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang
berilmu tentang segala hal. Atau yang mengambil ilmu dari
para shahabat." (Lihat Jami' Bayanil Ilm: 617).

6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal atau rasio, karena
agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan akal.
Allah berkata kepada Nabi-Nya:
"Katakanlah (Ya, Muhammad): "sesungguhnya aku memberi
peringataan kepada kalian dengan wahyu."." (Al-Anbiya: 45)
"Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur'an) menurut
kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 3-4)

Sungguh berbeda antara wahyu yang bersumber dari Allah
Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti wahyu tersebut
memiliki kesempurnaan, dibanding akal yang berasal dari
manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun
lemah.

Jadi tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang
jelas dari Al Qur'an ataupun hadits yang shahih karena
tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan
akalnya di hadapan keduanya.

Ali bin Abi Thalib berkata: "Seandainya agama ini dengan
akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki
yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada
saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh
aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya."
(shahih, HR Abu Dawud dishahihkan As-Syaikh Al Albani
dalam Shahih Sunan Abu Dawud no:162).
Pada ucapan beliau ada keterangan bahwa dibolehkan
seseorang mengusap bagian atas khuf-nya atau kaos kaki
atau sepatunya ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya
jika terpenuhi syaratnya sebagaimana tersebut dalam
buku-buku fikih. Yang jadi bahasan kita disini adalah
ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian
bawahnya. Padahal secara akal yang lebih berhak diusap
adalah bagian bawahnya karena itulah yang kotor.

Ini menunjukkan bahwa agama ini murni dari wahyu dan kita
yakin tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat dan
fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak
memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi
syariat melihat dari pertimbangan lain yang belum kita
mengerti.

Jangan sampai ketidakmengertian kita menjadikan kita
menolak hadits yang shahih atau ayat Al Qur?an yang datang
dari Allah yang pasti membawa kebaikan pada makhluk-Nya.
Hendaknya kita mencontoh sikap Ali bin Abi Thalib di atas.

Abul Mudhaffar As Sam'ani menerangkan Akidah Ahlussunnah,
katanya: "Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan
Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka, mencari agama
dari keduanya. Adapun apa yang terbetik dalam akal dan
benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau
mereka dapati sesuai dengan keduanya mereka terima dan
bersyukur kepada Allah yang telah memperlihatkan hal itu
dan memberi mereka taufik. Tapi kalau mereka dapati tidak
sesuai dengan keduanya mereka meninggalkannya dan
mengambil Kitab dan Sunnah lalu menuduh salah terhadap
akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan
menunjukkan kecuali kepada yang haq (kebenaran), sedangkan
pendapat manusia kadang benar kadang salah." (Al-Intishar
li Ahlil Hadits: 99)

Ibnul Qoyyim menyimpulkan bahwa pendapat akal yang tercela
itu ada beberapa macam:
a. Pendapat akal yang menyelisihi nash Al Qur'an atau As
Sunnah.
b. Berbicara masalah agama dengan prasangka dan perkiraan
yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari
nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum darinya.
c. Pendapat akal yang berakibat menolak asma (nama)
Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau
qiyas yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.
d. Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid'ah dan
matinya Sunnah.
e. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dengan
anggapan baik dan prasangka.
Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah
yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil
syariat. (lihat, I'lam Muwaqqi'in: 1/104-106, Al-
Intishar: 21,24, dan Al Aql wa Manzilatuhu)

7. Menghindari perdebatan dalam agama. Nabi
ShallaLlahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas
petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal
(berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: "Bahkan
mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan"." (Hasan,
HR Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As
Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no: 5633)

Ibnu Rajab mengatakan: "Di antara sesuatu yang diingkari
para Imam salafus shalih adalah perdebatan,
berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu
bukan jalannya para Imam agama ini." (Fadl Ilm Salaf 57
dari Al-Intishar: 94).

Ibnu Abil Izz menerangkan makna mira' (berbantah-bantahan)
dalam agama Allah adalah membantah ahlul haq (pemegang
kebenaran) dengan menyebutkan syubhat-syubhat ahlul
bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan
menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini
mengandung ajakan kepada kebatilan dan menyamarkan yang
hak serta merusak agama Islam. (Syarh Aqidah Thahawiyah:
313)

Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan yang
paling baik. Firman-Nya:
"Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau'idhah
(nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling
baik." (An-Nahl: 125).

Para ulama menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik
bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak
baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin
dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab
dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu
serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul
dari hasil perdebatan mereka. Juga bersikap adil serta
menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran.
(lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611 dan
Ar-Rad 'Alal Mukhalif hal:56-62).

Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah
perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka
berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan
tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu' Fatawa 24/172)

Inilah beberapa rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama
sebagaimana terdapat dalam Al Qur'an maupun hadits yang
shahih serta keterangan para ulama. Kiranya itu bisa
menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini,
sehingga kita berharap bisa beragama sesuai yang
diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

========================================================================
Hai orang-orang yang beriman, sukakah Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada
Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [As Shaff : 10-11]
========================================================================